02.13
0
Spektrum yang lengkap tentang kemumgkinan biotek: merah, hijau, abu-abu dan putih. Semua warna bioteknologi akan sangat tergantung pada organisme hasil rekayasa genetik dan urutan genom (genomik).
   Ada anjuran menerapkan "pendekatan holistik" yang berarti menggabungkan bioteknologi dengan disiplin ilmu lainnya, terutama nanoteknologi, yaitu teknologi pada skala molekuler sepermiliar meter.
Warna merah adalah untuk sektor farmasi dan kedokteran, terdiri dari: 'kedokteran regeneratif', 'terapi gen', 'kloning terapeutik', dan penggunaan bahan organik secara lebih tepat dan terarah untuk membuat obat yang lebih baik 'guna mengobati dan menyembuhkan penyakit seperti parkinson, alzheimer, kanker. Tidak banyak keberhasilan yang dicapai setiap bidang kecuali saat menggunakan sel induk dewasa pasien itu sendiri untuk memperbaiki organ dan jaringan rusak. hal itu tidak menghasilkan lini sel yang dipatenkan, jadi tidak ada keuntungannya, dan dengan demikian tidak menyumbangkan pada "bio ekonomi". Pihak-pihak yang mempromosikan KBBE cenderung menyembunyikan keberhasilan sel induk dewasa, serta kegagalan terapi gen, klon terapeutik dan obat hasil rekayasa genetik.
Hijau adalah untuk aplikasi pertanian pangan, seperti tanaman transgenik " dengan sifat yang diperbaiki, termasuk sifat tahan kering atau toleransi pada kadar garam". Hal ini juga mencakup penerapan pengetahuan ilmu kehidupan untuk meningkatkan teknik pemulihan tanaman serta menseleksi tanaman liar untuk dibudidayakan. Sekali lagi, keberhasilan tanaman transgenik belum terlihat. Keberhasilan pemuliaan yang dibantu penanda, dengan menggunakan urutan DNA untuk melacak sifat-sifat agronomi yang berguna dalam pemuliaan tanaman secara konvensional juga masih terbatas. Sebaliknya, ada banyak bukti tentang bahaya kesehatan dan lingkungan dari tanaman transgenik.
Putih adalah untuk biotek industrial: pengolahan dan produksi bahan kimia, materi dan energi, termasuk bahan bakar hayati' atau biofuel—yaitu etanol dan biodiesel—yang terbuat dari tanaman pangan seperti tebu, jagung, kanola, kedelai dan gandum. Mendapatkan bahan bakar dari tanaman energi tidak hanya menggusur lahan yang di perlukan untuk menanam tanaman pangan, tetapi juga menghasilkan jumlah energi lebih sedikit daripada energi yang dikeluarkan untuk memproduksinya. Dalam jangka panjang, hal ini juga akan menipiskan mineral dan unsur hara lain dalam tanah.
Pendukung tanaman transgenetik tidak pernah lelah mengatakan bahwa kita memerlukannya untuk meningkatkan produktivitas guna memberi makan dunia, karena kita telah menggunakan semua lahan pertanian, dan hutan telah ditebang untuk menggantikan lahan yang sudah tererosi dan mengalami salinisasi. Sekarang proponen biofuel (termasuk monsanto) mengatakan bahwa ada banyak lahan "tersisa" "kritis" "tidak digunakan" untuk menanam tanaman bioenergi. Sebuah tulisan dalam majalah United Nations Development Programme tengah mempromosikan tanaman bioenergi sebagai cara "menyerap karbon" dan menyatakan bahwa menurut organisasi pertanian dan pangan PBB (FAO), ada 2, 38 miliar  hektar lahan potensial yang 'belum digunakan' sebagai besar di selatan, terutama di afrika suh-sahara dan amerika latin
Abu-abu adalah warna baru, dan digunakan untuk aplikasi lingkungan, misalnya mengembangkan enzim untuk 'bioremediasi', guna membantu membersihkan bencana lingkungan seperti tumpahan minyak; dan mikrob untuk menyerap dan  menyaring limbah dalam air di saluran kotoran. Dalam hal ini tidak ada yang baru. Semua pengalaman dengan bioremediasi menunjukan bahwa mikrob alami yang ada ditempat sudah mampu melakukan tugas tersebut di atas, dan hanya perlu di rangsang dengan unsur hara yang dapat atau ditingkatkan dengan campuran mikrob non-transgenik. Satu-satunya alasan membuat enzim atau memodifikasi mikrob dan tanaman secara genetis untuk bioremediasi adalah guna mendapatkan paten untuk "bio-ekonomi". Bakteri transgenik sering gagal melakukan fungsinya, dan bisa mempunyai dampak tak terduga yang berbahaya.
Comments
0 Comments

0 komentar: