Anak ketiga begawan ekonomi itu lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951.
Belasan tahun usianya dihabiskan di luar negeri. Mula-mula di
Singapura, lalu Kuala Lumpur, Hong Kong, Swiss, dan Inggris, mengikuti
"pengembaraan" keluarganya.
Kawan-kawannya di masa remaja mengenalnya sebagai orang yang rajin
membaca buku dan gemar berolahraga. Ketika tinggal di Swiss, ia suka
bermain ski. Dan sampai sekarang, ia juga menyukai lari dan berenang.
Tenis, ia tak suka, karena dianggapnya terlalu biasa.
Ia kembali ke Tanah Air bersama keluarganya pada 1967. Lulus dari
bangku SMA tahun 1970, ia mendaftarkan diri untuk kuliah di Amerika
Serikat. Tak kepalang tanggung, fakultas ekonomi di tiga universitas
di negeri itu -- Colorado University, George Washington University,
dan sebuah universitas di Rhode Island -- menerimanya.
Namun anak begawan ekonomi Indonesia itu ternyata tak menyukai ilmu
bapaknya. Ia putuskan masuk Akabri bagian darat. Konon sejak di Taman
Kanak-kanak Prabowo memang senang berpakaian seragam militer. Ada yang
bilang, itu karena pengaruh kakeknya, Margono Djojohadikusumo, pendiri
BNI 1946 dan Ketua DPA pertama, yang berjiwa pejuang itu. Dua paman
Prabowo, Letnan Sujono dan Sersan Mayor Subianto, gugur melawan
Belanda, dalam pertempuran yang disebut sebagai Peristiwa Lengkong di
Tangerang. Mereka berdua tewas bersama Dan Mogot, saat revolusi fisik
dulu, dan kini dimakamkan di Taman Pahlawan Tangerang. Nama Subianto
di belakang nama Prabowo diambil dari nama sang paman. Ketika kecil
Prabowo biasa bermain-main dengan ransel, baju, atau peralatan militer
lainnya peninggalan pamannya itu.
Ia lulus sebagai perwira dengan pangkat letnan dua pada 1974. Ia telat
satu tahun. Ceritanya, suatu hari para taruna memperoleh izin cuti ke
Yogyakarta. Prabowo memanfaatkan kesempatan itu untuk terbang ke
Jakarta, menemui keluarganya. Walhasil pangkatnya diturunkan satu
tingkat.
Di luar kebandelan itu, Prabowo dikenal oleh kawan-kawan seangkatannya
sebagai orang yang kritis. Ia berani berbeda pendapat dengan para
instruktur. Kelebihan lain, ia memiliki ingatan dan daya tangkap yang
baik. "Kalau mengikuti kuliah, ia lebih banyak mendengar daripada
mencatat. Tapi waktu ujian, hasilnya bagus," ujar Mayor Poltak
Manurung, instruktur yang pernah mendidik Prabowo, kepada Tempo.
Karena lama berada di luar negeri, kawan-kawannya mengenal Prabowo
jago berbahasa Inggris, sampai-sampai ia dijuluki Inggrisnya-Inggris
atau The Queen's English. Ia sering dipercaya sebagai penerjemah bila
ada orang asing yang berkunjung ke Akabri. Selain bahasa Inggris, ia
fasih pula berbahasa Jerman, Prancis, dan Belanda.
Toh akhirnya ia lulus juga dan di lapanganlah jiwanya bertualang.
Seuntai kalimat Prabowo tertulis dalam buku kenangan taruna lulusan
1974: "Keberanian untuk menghadapi segala tantangan akan selalu diuji
dan ujian itulah yang akan menentukan apakah kita akan berdiri tegak
dan teguh penuh kehormatan atau tidak.
Semangat kalimat itu kemudian ia wujudkan dalam perjalanan waktu.
Hanya berselang dua tahun setelah lulus dari Akabri, ia diterjunkan ke
Timor Timur. Ketika itulah ia memimpin sebuah kompi yang berhasil
menghabisi Nicolao Lobato, Presiden Fretilin, Guido Soares, Panglima
Fretilin, dan Somotxo, anggota Komite Sentral Fretilin.
Ia termasuk perwira yang paling sering ikut dalam operasi militer. Di
Timor Timur saja ia empat kali mengikuti operasi, menghabiskan waktu
sekitar empat tahun. Ia pernah pula ditugaskan ke Irian Jaya. Tak
mengherankan kalau karier militernya selalu di pasukan tempur, di
Kopassus dan Kostrad. Batalyon 328 Kostrad yang dipimpinnya di Timor
Timur, tahun 1988-1989, terpilih sebagai batalyon dengan reputasi dan
prestasi terbaik, memperoleh tanda penghargaan Bala Yudha Perkasa.
dengan anak buahnya. Ia dikenal sebagai orang yang selalu berada di
depan dalam pertempuran. Karena itulah, pada 1983, ketika itu ia baru
empat bulan menikah, saat pasukannya terkepung di Timor Timur, ia
sempat hilang selama 12 jam. Peristiwa ini sempat membuat heboh
Jakarta. Kabarnya, ia berhasil menyelamatkan diri dari kepungan karena
bersembunyi di sebuah lubang di padang ilalang yang dibakar pasukan
Fretilin.
Ketika bertugas di lapangan, pria berkulit kuning langsat ini dikenal
hangat, simpatik, dan religius. Dalam kenangan Kolonel Syamsul Muarif,
Komandan Korem Surabaya, yang pernah bertugas di Timor Timur bersama
Prabowo, jenderal baru itu memang telah memperlihatkan sosok yang
patut diteladani. Di mata Syamsul, Prabowo merupakan pemimpin yang
tekun dan berdisiplin tinggi. "Salah satu rahasia suksesnya dalam
melaksanakan operasi," tutur Syamsul, "ia selalu berdoa sebelum
menjalankan tugas. Anggota pasukannya dikumpulkan, diberi dorongan
semangat, dan diajak berdoa bersama. Itu yang saya kagumi dari dia."
Tak percuma ia putra seorang profesor. Pada 1980, ia mengikuti
pendidikan di US Army Special Forces, di Fort Bragg, Amerika Serikat.
Ia menjadi lulusan terbaik (distinguished graduate). Hasil yang sama
ia peroleh, lulus dengan honor graduate, ketika mengikuti pendidikan
di US Army Infantry School di Fort Benning, Amerika, pada 1985. Ia
juga pernah mengikuti pendidikan antiteror (GSG-9) di Jerman
Barat.(Priyono B. Sumbogo)/GIS.-