22.10
0
Pemimpin klo bukan bagian dari sejarah, berarti tidak lebih dari pemimpin karbitan yang dibentuk oleh orang dalam sejarah juga. Sayangnya orang tersebut dalam sejarah andilnya bisa dibilang jelek atau mustahil dijadikan pertimbangan, makanya dia perlu alternatif sebuah boneka. Berbeda dengan pemimpin yang dalam sejarah bangsa memiliki banyak prestasi dan jasa atas negara, maka dia tidak perlu boneka partai dan dengan percaya diri maju sebagai pemimpin sejati. Saat ini masyarakat kita tidak bisa lagi membedakan antara pemimpin sejati dengan pemimpin karbitan, prestasi asli dengan prestasi pencitraan. Alhasil, pemimpin dengan polesan media sana sini naik daun, sedangkan pemimpin yang dalam sejarah memiliki kiprah luar biasa untuk bangsa dipandang negatif dan sebelah mata. Berbicara mengenai sejarah, Prabowo merupakan salah satu anak bangsa yang dalam sejarah Indonesia telah banyak menorehkan namanya dalam benih pengabdian kepada ibu pertiwi. Pertanyaannya, saat Prabowo melakukan ini semua, Jokowi lagi ngapain?
Pada tahun 1996, Komandan Kopassus Prabowo Subianto memimpin operasi pembebasan sandera Mapenduma. Operasi ini berhasil menyelamatkan nyawa 10 dari 12 peneliti Ekspedisi Lorentz '95 yang disekap oleh Organisasi Papua Merdeka. 5 orang yang disandera adalah peneliti biologi asal Indonesia, sedangkan 7 sandera lainnya adalah peneliti dari Inggris, Belanda dan Jerman. Operasi Kopassus bebaskan sandera di belantara Papua Komando Pasukan Khusus (Kopassus) baru saja merayakan HUT ke-61. Banyak cerita menarik seputar operasi militer yang dilakukan pasukan baret merah ini. Senin 8 Januari 1996 menjadi mimpi buruk untuk 12 peneliti Tim Lorentz yang sedang mengumpulkan data di Mapenduma, Papua. Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Daniel Yudas Kogoya menculik mereka dari base camp. Selama 130 hari, OPM menyandera mereka. Komandan OPM Kelly Kwalik berusaha menukar 12 sandera itu dengan kemerdekaan Papua. Karena melibatkan warga negara asing, peristiwa ini jadi sorotan internasional. Selama dalam penyanderaan, para sandera digiring blusukan ke belantara Papua. Mereka tak mendapat cukup makanan, sehingga beberapa orang sakit. Mabes TNI menggelar satgas untuk membebaskan sandera di Mapenduma. Komandan Jenderal Kopassus Brigjen Prabowo Subianto ditunjuk menjadi komandan. Tim Kopassus yang dikerahkan berasal dari Grup 5 Antiteror. Di antara pasukan TNI lain, mereka mudah dikenali karena berpakaian hitam-hitam. Selain itu ada pasukan Batalyon Lintas Udara Kostrad 330 dan pasukan penjejak yang terdiri dari putra-putra Irian milik Kodam Cendrawasih. Total pasukan yang dikerahkan mencapai 600 orang. Tapi sesuai permintaan dunia internasional, Prabowo mempersilakan Tim International Committee of the Red Cross (palang merah internasional), melakukan perundingan. Awalnya Kelly Kwalik menunjukkan itikad baik. Mereka berniat membebaskan beberapa sandera yang sakit, termasuk Martha Klein yang sedang hamil. Namun saat detik-detik pelepasan sandera, tiba-tiba Kelly Kwalik berubah. Dia berpidato dengan keras. "Saya minta ubi harus dapat ubi, bukan minta ubi dikasih ketela." Artinya jelas, kemerdekaan harga mutlak untuk Kelly. Para sandera dan tim ICRC lemas, mereka sadar perundingan yang berliku ini menempuh jalan buntu. Maka Brigjen Prabowo langsung menggerakkan pasukan begitu mendengar lampu hijau. Pengintaian lewat udara dilakukan terus menerus. Sebuah pesawat tanpa awak yang bisa mendeteksi panas tubuh ikut digunakan. Bukan perkara mudah melacak jejak sandera di tengah belantara Papua. Tapi TNI terus menekan mereka. OPM yang terdesak terus bergerak masuk hutan. Dalam keadaan panik, tanggal 15 Mei OPM membunuh dua anggota Tim Lorentz, Navy dan Matheis dibantai dengan kampak. Rupanya mereka berniat membunuh seluruh sandera yang berasal dari Indonesia dan hanya menyandera warga negara asing. Untungnya sisa tim bisa melarikan diri. Mereka bertemu pasukan Linud 330 Kostrad yang telah mengikuti mereka berhari-hari. Pasukan pimpinan Kapten Agus Rochim tersebut menemukan permen dan pembalut wanita yang tercecer di hutan. Dua benda tersebut menambah keyakinan mereka tak jauh lagi dari sandera. Tim berkekuatan 25 orang itu bermalam di hutan semalaman. Kapten Agus memanggil bala bantuan. Keesokan pagi, Tim Kopassus datang. Mereka bertugas mengamankan lokasi dan mengevakuasi jenazah Navy dan Matheis. Setelah 130 hari disandera, para peneliti bisa menghirup napas lega. Mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Prabowo dan pasukannya panen pujian dari internasional. Bukan perkara mudah membebaskan sandera di tengah hutan Papua yang begitu lebat.
2. Mengibarkan Merah Putih di Puncak Everest Pada tanggal 26 April 1997, Prabowo sebagai Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal TNI memimpin tim ekspedisi pendakian Gunung Everest yang terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI. Tim Nasional Indonesia ke Puncak Everest ini berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi dunia itu setelah mendaki melalui jalur selatan Nepal. Keberhasilan ekspedisi ini menjadikan Indonesia negara pertama dari kawasan tropis, sekaligus juga negara di Asia Tenggara pertama yang mencatat sukses menggapai puncak Everest. "Waktu itu kita mendengar bahwa Malaysia sudah mencanangkan akan mengibarkan bendera kebangsaan mereka pada tanggal 10 Mei 1997. Saya tidak rela bangsa Indonesia, sebagai bangsa 200 juta jiwa, harus kalah dengan bangsa lain di kawasan kita. Karena mencapai puncak tertinggi di dunia sudah menjadi salah satu tonggak ukuran prestasi suatu bangsa" (Dalam buku 'Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan') 3. Menyelamatkan Ratusan TKW
Prabowo telah berkomitmen menyelamatkan kurang lebih 300 TKW bermasalah utamanya di Yordania berkat kedekatan beliau dengan Raja Yordania, Abdullah II. Jauh sebelum momentum pemilu, Prabowo telah bolak-balik demi memperjuangkan nasib TKI bangsa di negara2 lain. Perjuangan Prabowo dalam membebaskan Wilfrida selama sembilan bulan adalah contoh terkini. 4. Mempererat Hubungan Internasional
Kiprah Prabowo dalam pergaulan di dunia Internasional tidak lagi diragukan. Dengan kemampuan bahasa asing yang banyak serta wawasan globalnya dalam berkomunikasi dan berdiplomasi, Prabowo memiliki banyak mitra dan relasi antara para pemimpin dunia. Tidak jarang Prabowo melakukan forum di rumahnya sendiri bersama para duta luar negeri dengan pokok pembicaraan seputar pasar bebas, ekonomi global, maupun kemajuan atau isu seputar negara. Bahkan dengan Raja Yordania sendiri, Abdullah II, kedekatan mereka sudah seperti sahabat. Hal tersebut melatarbelakangi banyaknya bantuan dari Raja Yordania itu kepada Prabowo. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto menghadiri acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering bersama Raja Abdullah II dari Yordania. Acara yang digelar di JCC, Jakarta ini dihadiri berbagai kalangan, dari mulai ulama, cendekiawan, tokoh bangsa antara lain Mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla dan sejumlah pengurus DPP Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon menuturkan, Raja Abdullah II adalah sahabat karib Prabowo Subianto. Saat Prabowo menjadi Danjen Kopassus, Raja Abdullah II menjadi Pangeran Yordania yang memimpin Komando Angkatan Khusus Kerajaan Yordania. Lalu dijadikan Putera Mahkota dan akhirnya Raja. "Pak Prabowo dan Raja Abdullah II adalah sahabat karib sejak lama," kata Fadli Zon di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (26/2/2014). Dalam acara NU Sufi Gathering, Prabowo duduk di samping Raja Abdullah II. Acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Quran, shalawat badar, menyanyikan lagu kebangsaan Yordania dan Indonesia. Setelah itu, tiga pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (NU) Pagar Nusa menampilkan atraksi yang membuat Raja Abdullah II terkesima. Para pendekar membuka buah kelapa dengan gigi. Di dalam kelapa, masing-masing ada bendera Kerajaan Yordania, Indonesia, dan NU. Simbol persaudaraan Indonesia - Yordania. Saat memberikan sambutan, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prabowo yang merupakan sahabat Raja Abdullah II dan sahabat NU. Selanjutnya, Ketua Umum PBNU menjelaskan tentang Islam di Indonesia yang toleran, dan juga menerangkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sedangkan Raja Abdullah II menyampaikan tentang Amman Message yang menyerukan pesan toleransi dan perbedaan kepada umat Islam. Acara NU Sufi Gathering mempunyai makna penting. Melalui acara ini, kita harapkan ke depannya tidak ada lagi kekerasan di dunia, terutama yang mengatasnamakan agama.
5. Mendirikan Partai Gerindra
6 Februari 2008, Prabowo dengan para sahabatnya mendirikan Partai Gerindra sekaligus disana ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina. Bermula dari Keprihatinan, Partai Gerindra lahir untuk mengangkat rakyat dari jerat kemelaratan akibat permainan orang-orang yang tidak peduli pada kesejahteraan. Meskipun partai baru, Gerindra memiliki banyak sayap pergerakan dan melakukan banyak action nyata demi kemajuan bangsa, berbeda dengan beberapa partai lainnya yang fokusnya pada pemerintahan dan kekuasaan semata. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi suara Gerindra melesat jauh mengalahkan para partai seniornya. Gerindra telah mencanangkan banyak kegiatan kemajuan seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini dalam Revolusi Putih dan penyediaan fasilitas Ambulans gratis yang bermanfaat dibanyak provinsi. Selain itu, Gerindra pun aktif melakukan banyak sosialisasi ke masyarakat lintas daerah. Gerindra memiliki memiliki sayap-sayap untuk dapat mengakomodasi aspirasi dari berbagai kalangan masyarakat. Misalkan, Tunas Indonesia Raya (TIDAR) untuk pemuda, Perempuan Indonesia Raya (PIRA) untuk perempuan, Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA) untuk umat Islam, Kristen Indonesia Raya (KIRA) untuk umat Kristen, dan lain sebagainya. Prabowo berharap melalui Gerindra, setiap potensi elemen bangsa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Dan melalui Gerindra pula, Prabowo berharap dapat merangkul semua golongan dalam memajukan bangsa yang berafiliasi pada pokok persatuan dan perdamaian.
Saat Prabowo melakukan hal-hal tersebut, Jokowi sendiri sedang apa? Nanganin waduk, jualan kayu, razia topeng monyet? Apa yang dilakukan Prabowo bersama prestasi dan jasanya dalam skala nasional dan konteks kebangsaan ini, bisa jadi tidak pernah anda lihat di TV, karena apa yang disebut kiprah hebat dalam kepemimpinan sejati tidak butuh liputan media untuk membuat euforia semu di tengah masyarakat. Kerja pemimpin sejati adalah berjasa diatas dan bawah tanah, berbeda dengan kerja pemimpin pencitraan adalah berjasa diatas lantas dilambungkan ke udara. Apa yang dilakukan pemimpin pencitraan ini, menciptakan sebuah angan2 kosong "Indonesia Baru" dalam pikiran masyakarat kolot dan sempit, dengan cara menampilkan jasanya yg terbatas untuk jadi santapan masyarakat yg naif. Diblow-up semua apa yang dilakukannya di satu daerah dan daerah lainpun yg pada dasarnya tidak merasakan apa2 lantas terkagum2 dengan polosnya, tanpa mengetahui klo basis orang2 di daerah pemimpin itu sendiri telah banyak yang kecewa dengan tingkat respektivitas yang terus menurun, akibat kepemimpinan yang lalai dari penuntasan dan jauh dari amanah. Disaat mereka disana mendemo kasus2 yang mengecewakan dari pemimpinnya, media seakan menutup diri, dan orang2 diluar mereka pun tetap kaku dengan euforia semu tentang pemimpin "Indonesia Baru" ini, lambat laun hal ini menjadi sebuah doktrin yang mengakar dan mengabaikan semua fakta bahwa "Daerah Baru" pun belum terealisasi dari tangan pemimpin tersebut. Begitulah cara kerja sebuah pencitraan. Logika sederhana, klo "Jakarta Baru" gagal, kenapa "Indonesia Baru" bisa sukses? Klo "Jakarta Baru" gagal, kenapa "Sabang-Marauke Baru" bisa sukses? Klo "Jakarta Baru" gagal, kenapa "Indonesia Timur Baru" bisa sukses? Jika konsep pencitraan diterapkan pada sosok Prabowo sejak dulu, maka yakinlah semua orang termasuk Jasmev masa kini sudah setia mendukung beliau. Namun itu tidak perlu! Sebuah prestasi dengan tingkat pencitraan yang ramai membuktikan prestasi tersebut sebenarnya kecil dan kerdil sehingga butuh pendongkrakan, dan demikianlah faktanya terlalu kerdil prestasi Jokowi untuk dibandingkan dengan prestasi Prabowo Subianto.
Comments
0 Comments