Teori tentang plasma nutfah tergantung pada dua pengamatan kunci pertama, Weismann menemukan bahwa pada embrio serangga, bakal sel kelamin menjadi terpisah dari badan di tahap awal perkembangan. Dari pengamatan itu ia menarik kesimpulan bahwa sel kelamin (sel nutfah) dilindungi dari pengaruh lingkungan, sehingga plasma nutfah yang mereka bawa tetap konstan dan abadi. Kedua, di dalam cacing bulat, Ascaris yang dibuahi, ia menemukan sepasang kromosom besar, sedangkan pada telur yang belum dibuahi hanya terdapat satu buah. Maka ia menarik kesimpulan bahwa plasma nutfah terdapat dalam kromosom, yang jumlahnya menjadi setengah di dalam sel kelamin, sehingga apabila sel kelamin laki-laki dan perempuan bersatu pada saat pembuahan, jumlah aslinya pulih. Teori weismann tentang kontinuitas dan keabadian plasma nutfah merupakan sebuah idealisme semata-mata. Sebagaimana diungkapkan para komentator dikemudian hari, pemisahan dini dari sel kelamin itu hanya berlaku pada serangga, tapi tidal terjadi secara umum pada hewan, dan sama sekali tidak terdapat dalam tanaman. Lagipula, tidak ada bukti bahwa materi genetik pada sel kekamin kebal terhadap pengaruh lingkungan. Plasma nutfah mengambil alih peran roh yang abadi, saat ilmu menggantikan agama kristen.
Meskipun demikian, Weisman telah mengidentifikasikan dengan benar bahwa kromosom adalah pembawa materi genetik, sehingga mempersempit pencarian basis material dari kesatuan yang berperilaku seperti gen mendel. Keberadaan kromosom yang berpasangan dan segregasi (pemisahan) kedalam sel kelamin sejajar dengan segregasi gen dari mendel; lagipula kromosom, seperti gen, juga mengalami seleksi independen dalam pembentukan sel kelamin, sehingga masing-masing sel kelamin mempunyai kombinasi yang berbeda, dari kromosom yang berasal dari ayah atau ibu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)