22.16
0

"May Day" sebagai istilah hari buruh 1 Mei seyogyanya menjadi hari dimana silaturahmi antara investor, manajemen, dan karyawan terjadi. Tapi apa lacur, 1 Mei
selalu berkonotasi dengan demo besar-besaran . Mungkin waktu kuliah sukanya demo, jadi ketika jadi karyawan/buruh pun jurus yang dipakai tetap sama, demo! Naik gaji, atau DEMO! Dialog bukan suatu pilihan menarik, apalagi kalau ada kontrak politik yang bisa di pakai untuk alasan bargaining.
Dari liputan-liputan yang terjadi di Mayday 2014 kemarin, ada dua isu yang saling berkaitan dan sangat menggelikan.
Pertama, buruh menuntut UANG PARFUM, dan kemudian ada kontrak politik terjadi antara Prabowo dan KSPI.
Kenaikan kebutuhan hidup 84 item termasuk uang parfum di dalamnya.
Belum pernah seumur hidup penulis mendengar bahwa bau ketiak (maaf) adalah tanggung jawab perusahaan. Marah campur geli melihat tuntutan tidak masuk akal. Pengakuan terbuka bahwa ketiaknya bau cukup mengharukan juga,
tapi beli rexona atau parfum yang lain seharusnya dari gaji bukan minta naik gaji atau tambah tunjangan.
Lebih gilanya lagi karena "iming-iming" tanda tangan 1,7 juta buruh, Prabowo yang ngebet jadi presiden pun berjanji
politik akan memenuhinya. Keberatan Kadin pun cuma dianggap angin lalu. Bukankan ini semua jadi "money politic" yang santun? Menjanjikan "uang ga jelas" demi voting, itu kan definisi money politic atau sudah diganti? Orang waras akan mengerti tuntutan buruh itu tidak masuk
akal. Orang yang waras juga mengerti, bahwa janji untuk membelikan uang parfum itu hanya demi kepentingan
politik sesaat. Tapi itulah dagelan politik di hari buruh 1 Mei 2014. Minimal kita tahu Prabowo adalah presiden yang bersih, tidak suka bau ketiak dan jorok-jorok.
"Saya tanya, buruh tidak boleh hidup baik? Buruh harus jorok?" kata Prabowo dengan nada tinggi saat dimintai tanggapan tentang masuknya parfum dalam KHL.

Comments
0 Comments

0 komentar: