19.14
0

  Saat itu 2 Jan 1999
   
   Empat bulan di luar negeri, ada kabar Prabowo Subianto mendapat
   kewarganegaraan dari Yordania. Apa yang dikerjakan bekas Dan Kopassus
   itu di negeri Raja Hussein? Siapa koneksinya?
     _________________________________________________________________
   
   BAGI Letnan Jenderal (Purnawirawan) Prabowo Subianto, ada berita
   bagus, ada berita buruk. Semuanya terjadi pekan lalu. Berita bagus
   itu: bekas Komandan Kopassus itu mendapat status kewarganegaraan dari
   pemerintah Yordania. Berita mengejutkan ini dilansir koran Al-Ra'i (12
   Desember) dan kemudian dimuat harian Kompas, Selasa pekan lalu. Isi
   berita: "Sebuah dekrit raja (Hussein) dikeluarkan untuk
   menganugerahkan status kewarganegaraan Yordania kepada seorang warga
   negara Indonesia, Prabowo Subianto Kusumo". Esok harinya, Prabowo-yang
   tengah berada di Amman, ibu kota Yordania-mengirim faks. Putra begawan
   ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikusumo itu menyatakan, ia memang
   ditawari status itu, tapi ia tak bisa menerimanya karena tahu persis
   bahwa Republik Indonesia melarang warganya memiliki kewarganegaraan
   rangkap.
   
   Berita buruknya: Senin pekan lalu, Presiden Habibie menginstruksikan
   agar proses penyidikan terhadap anggota Komando Pasukan Khusus
   (Kopassus) diteruskan. Dari pemeriksaan itu akan ditentukan: sejauh
   mana Prabowo terlibat kasus penculikan aktivis itu. Persidangan yang
   dimulai pekan lalu itulah yang akan menentukan nasib bekas orang
   pertama Pasukan Baret Merah tadi (lihat Boks).
   
   Cerita sidang tentu masih akan berlanjut. Sekarang ini, yang menarik
   adalah menelusuri seluk-beluk cerita bagaimana Prabowo sampai mendapat
   kehormatan yang begitu tinggi di Kerajaan Yordania. Bukankah
   kewarganegaraan Yordania itu hanya didapat orang yang benar-benar
   berjasa, dekat, dan dipercaya keluarga kerajaan? Dan, bagaimana
   Prabowo bisa berada di Amman, sementara kasus penculikan disidangkan
   di Jakarta?
   
   Prabowo meninggalkan Jakarta pada September 1998 lalu. Jenderal
   bintang tiga itu baru saja kehilangan karir militernya. Yaitu, ketika
   pada 24 Agustus 1998 Dewan Kehormatan Perwira, yang memeriksa kasus
   penculikan sembilan aktivis prodemokrasi, mengumumkan berakhirnya masa
   dinas Prabowo-sebagai hukuman atas tindakan penculikan itu. Pengumuman
   itu dilakukan Panglima ABRI/Menteri Hankam Jenderal Wiranto yang
   mengetuai dewan kehormatan tadi.
   
   Sebelum bertolak meninggalkan Jakarta, Prabowo, yang (saat itu) belum
   menerima surat pensiun, berulang kali menemui Wiranto untuk meminta
   pensiunnya dipercepat. Ia juga meminta izin pergi ke luar negeri untuk
   urusan keluarga di Eropa, dan juga untuk berobat. Maksudnya, agar ia
   bisa pergi sebagai orang sipil yang tidak terikat lagi dengan dinas
   militer. Kata sebuah sumber, Prabowo menyatakan siap
   dimahkamah-militerkan kapan saja. Tapi Wiranto tidak bicara soal
   mahkamah militer. Panglima ABRI tadi akhirnya memberikan izin untuk
   Prabowo. Surat pensiun untuknya diteken Presiden B.J. Habibie pada 20
   November 1998.
   
   Mantu bekas presiden Soeharto itu pun berangkat, bersama istrinya,
   Siti Hediyati Hariyadi, dan Ragowo, putra tunggalnya yang baru berusia
   14 tahun. Mereka menuju Boston, Amerika Serikat, untuk memasukkan
   Ragowo ke SMP di sana. Titiek-panggilan Hediyati-juga berkesempatan
   melancarkan bahasa Inggrisnya. Keluarga ini boleh dibilang jarang
   berkumpul di Jakarta, mengingat kesibukan masing-masing. Mereka
   sebulan berada di Boston.
   
   Dari Boston, Prabowo terbang ke Amman. Ia memenuhi undangan Pangeran
   Abdullah, putra Raja Hussein. Prabowo memang pernah diminta menjadi
   penasihat militer kerajaan itu, mengingat ia pernah melatih tentara
   Yordania di Batujajar, Bandung. Kedatangan Prabowo kali ini istimewa.
   Ia tinggal lebih lama karena ia juga bekerja sebagai general manager
   grup Tirtamas, perusahaan milik adiknya, Hashim Djojohadikusumo, yang
   cabang usahanya meluas sampai Timur Tengah. Seperti seorang pimpinan
   perusahaan, Prabowo punya karyawan dan berkantor di sana. Seorang
   ajudan ketika ia menjabat Dan Kopassus juga ikut serta. Ia tinggal di
   apartemen di jantung kota Amman.
   
   Di Amman inilah ia bertemu Pangeran Abdullah-untuk kesekian
   kalinya-orang yang belakangan sangat dekat dengannya. Perkenalan
   keduanya dimulai secara kebetulan, pada awal Desember 1995. Waktu itu,
   Abdullah ingin bertemu Menristek B.J. Habibie, tapi akhirnya pertemuan
   tak kunjung terjadi walau sang pangeran telah menunggu beberapa hari.
   Ia mencoba ketemu Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung, ternyata
   orang pertama militer itu tengah berada di Turki. Pangeran Abdullah
   ngambek, Dubes Yordania di Jakarta pun kelimpungan. Namun untung ia
   bisa dibujuk untuk tinggal di Jakarta sampai 4 Desember 1995. Untuk
   apa? Menghadiri pelantikan Komandan Kopassus yang baru: Prabowo
   Subianto, yang menggantikan Brigjen Subagyo Hadisiswoyo.
   
   Mantu Soeharto dan anak Raja Hussein itu pun bertemu dalam acara
   pelantikan, disusul beberapa pertemuan pribadi, dan ternyata keduanya
   banyak punya kecocokan. Prabowo Komandan Pasukan Khusus, Abdullah juga
   komandan special operations (SOCOM) di negaranya. Prabowo pernah
   mendapat "wing" terjun payung, Abdullah malah salah satu penerjun
   terbaik Yordania. Anak pertama laki-laki-ia punya kakak perempuan dari
   istri Raja yang lain-Hussein inilah yang mendirikan Jordanian
   Parachuting Club pada akhir 1980. Abdullah adalah juara kejuaraan reli
   di Yordania (1986 dan 1988). Anak raja itu sekarang adalah ketua
   Jordan Football Federation-PSSI-nya Yordania. Usia keduanya berbeda 11
   tahun-Prabowo lahir di Jakarta pada 1951 dan Abdullah lahir pada 1962.
   Prabowo pada usia 8 tahun bersekolah di Inggris, begitu pula Abdullah
   yang pada usia 9 tahun sudah dikirim ke boarding school di Inggris,
   dan tiga tahun kemudian mulai mengecap pendidikan di Amerika Serikat.
   "Mereka berdua itu pernah dididik dengan cara yang sama, cara
   Inggris," kata sebuah sumber.
   
   Pangeran Abdullah ini adalah anak pertama Raja Hussein dari seorang
   wanita Inggris bernama Antoinette Gardiner, yang kemudian bergelar
   Ratu Muna. Menikah pada 1961, pasangan ini bercerai pada 1972. Selain
   Abdullah, dari Ratu Muna ini Hussein mendapat Pangeran Faisal dan si
   kembar Ratu Zein dan Aisha. Dari istri pertamanya, Ratu Dina, yang
   masih terhitung sepupunya, Raja Hussein mendapat seorang anak
   perempuan. Dari istri ketiganya, Ratu Alia, yang akhirnya tewas dalam
   kecelakaan pesawat terbang di tahun 1977, Raja mendapat empat orang
   anak. Dan dari istri keempat, Elizabeth "Lisa" Halaby, seorang arsitek
   lulusan Princeton, yang disebut Ratu Noor, Hussein mendapat dua anak.
   Dari empat istrinya, Raja Yordania, yang merupakan warga Bani Hasyim
   atau keturunan ke-38 Nabi Muhammad SAW ini, mempunyai 11 anak.
   Abdullah adalah anak kedua dari 11 bersaudara seayah. Tampak jelas
   bahwa Abdullah adalah tumpuan harapan Hussein. Ia diserahi jabatan
   penting, Menteri Panglima Angkatan Bersenjata, dan namanya diabadikan
   sebagai nama pangkalan militer Yordania.
   
   Maka, Abdullah sangat berperan di militer. Ia sempat mengundang
   Prabowo untuk melihat latihan militer di Yordania. Abdullah pun dibawa
   Prabowo ke Batujajar, Bandung, pusat latihan Kopassus itu. Abdullah
   ini kabarnya hafal semua jenis senjata, mulai dari tank, bazoka, semua
   jenis mortir, dan peluru. Tentu saja, klop dengan mantan Dan Kopassus
   yang pernah berguru di Fort Benning, AS, dan ahli "perang gerilya
   antigerilya". Dari hubungan ini akhirnya Prabowo bisa membeli
   helikopter dengan harga US$ 1,1 juta, padahal seorang pejabat
   pemerintah menawarkan heli itu-tentu dengan taktik mark-up-seharga US$
   6 juta. Hasil lain: Abdullah sempat menghadiahkan sejumlah tank bekas
   kerajaannya yang menumpuk di gudang untuk Kopassus. Dari sejumlah tank
   itu, hanya sembilan tank yang akhirnya bisa dioperasikan dengan
   optimal.
   
   Dekatnya hubungan Prabowo-Abdullah bisa dilihat ketika Prabowo harus
   mengakhiri karir militer, setelah jatuh keputusan DKP pada 24 Agustus
   1998. Abdullah-yang disebut-sebut telah mengetahui lebih dulu bahwa
   putusan untuk Prabowo akan "sangat berat" dari koneksinya di
   Amerika-segera terbang dengan jet pribadinya ke Jakarta. Ia memberi
   dukungan kepada rekannya yang tertimpa "musibah" itu, duduk sebentar,
   makan malam, dan kemudian segera terbang pulang ke Amman, pada hari
   yang sama. Tak cuma itu. Setiba di Amman dari Boston, Oktober 1998
   lalu, Prabowo juga dijamu dengan acara kenegaraan. Bekas Panglima
   Kostrad itu pun menangis menerima penghormatan ini. "Itulah prinsip
   padang pasir. Teman adalah saudara, apa pun yang terjadi," kata sebuah
   sumber.
   
   Raja Hussein punya catatan baik, yaitu ketika ekspedisi Tim Nasional
   Indonesia pada 26 April 1997 berhasil mencapai Puncak Sagarmatna (Alis
   Mata Samudra), salah satu puncak tertinggi Everest yang tingginya
   8.848 meter dari muka laut. Tim yang mencapai sukses itu adalah
   gabungan Kopassus, Wanadri, dan UI. Pendakian yang digagas Prabowo ini
   merupakan sukses pertama tim dari Asia Tenggara ke puncak dunia.
   Sampai-sampai Raja Hussein pun bangga bahwa untuk pertama kalinya ada
   pendaki Islam yang meneriakkan suara azan di langit-langit dunia itu.
   Raja sempat memberikan bintang penghargaan kepada Prabowo, dan
   kemudian kewarganegaraan Yordania.
   
   Sebuah sumber menjelaskan, proses kewarganegaraan Yordania untuk
   Prabowo ini sudah bergulir sejak Maret lalu-dua bulan menjelang
   Presiden Soeharto lengser. Biasanya, negeri-negeri Arab itu tak akan
   mengeluarkan kewarganegaraan jika tak diminta. Dalam versi ini, diduga
   pihak Prabowo-lah yang aktif bergerak. Dan, diduga, Pangeran Abdullah
   sangat membantu dalam soal ini. Namun, di sisi lain, Abdullah sangat
   ingin Prabowo menjadi penasihat militer di negerinya. Jadi, mungkin
   saja anak raja itu bergerak lebih cepat dan menentukan.
   
   Soalnya: apakah dengan keluarnya surat pensiun dari Presiden Habibie
   lantas Prabowo bebas melakukan pelatihan militer? Kapuspen ABRI Mayjen
   Syamsul Ma'arif mengingatkan bahwa ada aturan yang harus diikuti
   Prabowo. "Itu sama saja dengan membocorkan rahasia negara," katanya.
   Tapi sumber TEMPO di jajaran militer lainnya berbeda pandangan. Kata
   sumber ini, ilmu militer itu universal. Jadi, bisa saja Prabowo
   melatih di negara mana pun. Seandainya ada militer yang membocorkan
   rencana penyerbuan di Tim-Tim, misalnya, itu yang bisa dianggap
   membocorkan rahasia negara, kata sumber ini. Yang benar? Entahlah.
   
   Kedutaan Yordania di Jakarta juga mengaku tak punya informasi tentang
   kewarganegaraan Prabowo ini. Sebuah pernyataan Kedutaan Yordania tak
   membantu menjelaskan urusan ini. Sementara itu, Menteri Kehakiman
   Muladi tegas mengatakan bahwa ihwal Prabowo ini harus dicek dengan
   teliti. Kalau benar ia mendapat kewarganegaraan Yordania, menurut
   Undang-Undang No. 62/1958, status warga negara RI-nya bisa dibatalkan.
   "Nanti Menteri Kehakiman yang mempertimbangkan itu," ujar Muladi
   kepada TEMPO. Muladi tengah menunggu konfirmasi dari Departemen Luar
   Negeri soal Prabowo ini.
   
   Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, dalam jumpa pers di Hotel
   Shangrila Jakarta, Selasa 29 Desember 1998, bangga atas status yang diterima
   kakaknya. Itu, katanya, "Sebagai anugerah atas jasa-jasa (Prabowo)
   dalam memajukan dunia Islam pada umumnya." Walau Hashim juga
   mengatakan bahwa kakaknya tak akan melepaskan kewarganegaraan RI.
   Prabowo sendiri, dalam suratnya yang dimuat berbagai media di Jakarta,
   mengaku "tak bisa menerima" kewarganegaraan Yordania itu.
   

   
  
Comments
0 Comments

0 komentar: