17.40
0



Pro vs Junior
16 Juni 2014
Iriana E M 

Direktur Utama Management Consultant 

Sulit bagi saya memberi penilaian pada  debat capres malam ini. Sulitnya adalah karena saya menghormati kedua calon Presiden  yang akan menjadi pemimpin negara saya sendiri.  Karena itu akan saya pakai perumpamaan saja yang lebih menggambarkan perasaan perasaan saya ketika menonton.


Debatnya sih agak garing menurut saya.. ini karena pemain debat tidak berimbang levelnya.
Mungkin lebih tepat jika saya gambarkan dengan level pemain golf (mohon maaf pada yang tidak mengenal olahraga ini), yang satu sudah profesionalyang satu lagi masih baru lulus dari driving range (tempat latihan memukul). Di salah satu  padang golf di Bogor, driving range-nya punya padang mini yang berisi simulasi jenis jarak yang harus dituntaskan dengan jumlah pukulan. Ada jarak yang harus dituntaskan dengan 3 pukulan, 4 pukulan dan 5 pukulan dengan beberapa hambatan. Seorang pemain boleh jadi sudah lulus di padang simulasi ini, namun belum biasa menghadapi ganasnya tantangan padang golf yang sesungguhnya.

Melihat jurus-jurus yang dimainkan oleh Pak Jokowi dalam debat tadi, saya teringat  ketika saya baru pertama kali hanya bisa memainkan 2 jenis tongkat pemukul saja. Pertama kali turun ke padang golf yang sesungguhnya saya baru bisa memainkan 2 jenis tongkat, padahal jenis tongkat pemukul paling tidak  ada 14 untuk berbagai  jenis hambatan.  Apapun tantangan di padang golf itu saya hanya memakai satu jenis tongkat pemukul. Setelah sampai di green - ini adalah pukulan terakhir mendekati lubang bola -  baru saya pakai tongkat yang memang hanya boleh dipakai di green, namanya putter.

Kembali ke Pak Jokowi, mirip dengan saya, Beliau mengandalkan 2 jenis tongkat saja : kartu pintar, kartu sehat, bolak balik itu lagi itu lagi yang dikeluarkan..
Sebagai pemain pemula, pasti sulit menanyakan hal-hal yang fundamental dan filofofis. Paling yang  bisa ditanyakan ya hal teknis.  Demikian pula, saya memaklumi jika Pak Jokowi malah bertanya tentang TPID - sesuatu yang belum lama ada di daerah-daerah, dan merupakan wewenangnya lembaga pengatur inflasi tingkat nasional dan Pemerintahan Daerah. Tim yang dibentuk sendiri masih mencari bentuk.

Terus terang saya agak malu juga jika debat tadi ditonton masyarakat internasional. Lha, soal AFTA itu kok jawabannya sederhana sekali yaa.. as simple as melarang mereka masuk ke daerah-daerah, bikin saja peraturan-peraturannya.. lho kan kita sudah sepakat bersama dengan negara-negara lain itu.. padahal di sesi lain, katanya menghormati kontrak.. kalau sudah ikut tanda tangan AFTA, ya harus juga menghormati dong.. jangan pasang lagi peraturan-peraturan yang bertentangan..

Kadang saya bermain golf dengan teman yang sudah rendah handi cap-nya, dan biasanya dengan sabar teman saya akan mengajari dan mendukung saya. Jika pukulan saya cukup bagus mereka menyemangati saya, padahal jauh dari sempurna. Melihat Pak Prabowo mendukung pendapat Pak Jokowi, mengingatkan saya pada situasi ini..

Jadi menurut saya  debat tadi bukan dalam suasana kompetisi antar pemain. Lebih seperti kakak menuntun adik..lebih kompetisi dengan diri sendiri dan Pak Prabowo menang telak mengalahkan dirinya sendiri.. makanya penonton  yang mengharapkan debat kompetitif dengan pertanyaan-pertanyaan sulit  jadi kecewa deh..
      

Comments
0 Comments

0 komentar: