Setelah pensiun dari militer lebih dari 15 tahun lamanya, Jenderal (Purn) Prabowo Subianto terus mencoba membangun kepercayaan masyarakat terhadap sosoknya.
Kepercayaan publik terhadap Prabowo sempat runtuh, karena posisinya sebagai petinggi militer di era Orde Baru. Upaya untuk membangun kembali kepercayaan publik itu dilakukan Prabowo lewat gerakan sosial dan panggung politik. Jalur politik dipilih Prabowo, karena dia menganggap dunia politik dan demokrasi di Indonesia ibarat "jauh panggang dari api".
"Sejak umur 18 tahun saya sudah berjanji untuk terus membela Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Cita-cita berdemokrasi harus diwujudkan dan dipelajari oleh seluruh anak bangsa," kata Prabowo ketika dijumpai baru-baru ini.
Ketika tidak aktif lagi di dunia militer, berbagai cara untuk membantu menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik dilakoni pria kelahiran 17 Oktober 1951 tersebut. Selepas 1998 atau pada era reformasi, Prabowo merintis karier sebagai pengusaha dan aktif dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan.
Dia menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Tidak sampai di situ, untuk membantu mewujudkan kehidupan masyarakat yang memiliki teladan terhadap Pancasila, Prabowo juga mendirikan berbagai koperasi dan yayasan pendidikan, seperti Koperasi Swadesi Indonesia dan Yayasan Pendidikan Kebangsaan.
Bahkan, pada sekitar 2008, bersama adiknya, Hasyim Djojohadikusumo, Prabowo mendirikan Institut Garuda Nusantara sebagai pusat studi kebijakan strategis Indonesia. Visi dan misi organisasi itu adalah mengembangkan pemikiran dan strategi pembangunan nasional menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Keinginannya untuk maju sebagai calon presiden (capres) berawal ketika menyadari bahwa Indonesia merupakan salah satu negara kaya di dunia, terutama dari sumber daya alam.
Namun, bila melihat ke dalam, ujarnya, hampir seluruh petani Indonesia relatif miskin dan Indonesia malah menjadi negara pengimpor utama komoditas pangan.
Kondisi para petani itu setali tiga uang dengan nasib para nelayan, padahal garis pantai dan laut Indonesia terluas bila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Ekspor tangkapan hasil laut masih lebih rendah dibanding negara tetangga yang memiliki garis pantai jauh lebih pendek.
Prabowo juga menyadari, semua upaya yang dilakukan untuk menciptakan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur, tidak akan efektif bila tidak turut menggeluti dunia politik.
Untuk itu, sejak 2004, mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus tersebut mulai aktif di berbagai kegiatan berpolitik. "Untuk memperbaiki kondisi bangsa harus ikut berpolitik. Hanya dengan berpolitik, melalui pemilihan suara, saya dapat menjalankan demokrasi dengan baik," ujarnya.
Persimpangan Jalan Menurut dia, kondisi Indonesia saat ini tengah berada di persimpangan jalan. Dia mengibaratkan Indonesia sedang dalam perang antara Pandawa dan Kurawa dalam cerita pewayangan.
Jadi, pihak yang bisa memenangi perebutan, kuncinya ada di tangan masyarakat melalui perebutan tampuk kepemimpinan 2014.
"Sekarang, yang penting adalah kembali ke arah yang benar. Siapa pun yang ingin maju atau dimajukan, biarkan rakyat yang memilih. Toh nanti rakyat sendiri yang menanggung risiko terhadap pilihannya itu," kata Prabowo.
Oleh karena itu, pada pemilu mendatang, Prabowo mengaku tidak mau ambil pusing tentang siapa calon yang maju atau dimajukan partai. Yang terpenting, ujarnya, jangan sekali-kali calon pemimpin itu mengutamakan politik kekuasaan, karena akan berujung pada pengabaian tujuan bersama suatu negara, yakni menyejahterakan rakyat.
Ketika banyak hasil survei yang menempatkannya sebagai salah satu tokoh yang layak menjadi capres, Prabowo justru menyampaikan keinginan rakyat tentang sosok pemimpin yang diidamkan. Masyarakat, ujarnya, ingin sosok pemimpin yang memiliki ketegasan dan mampu menjadi teladan bagi rakyat.
"Rakyat sudah tidak terlalu percaya terhadap sistem politik di Tanah Air. Perspektif yang ada terkait sosok pemimpin saat ini harus dibalik, yakni pemimpin harus maju untuk mengabdi, bukan untuk mendapatkan kekuasaan," katanya.
Bagi sebagian besar masyarakat, ketegasan sosok pemimpin, seperti Prabowo, sangat dibutuhkan. Terbukti, pada survei yang dilakukan Indonesia Network Elections Survey (INES) tahun lalu, nama Prabowo mengungguli sejumlah tokoh nasional lain yang selama ini disebut- sebut layak menjadi capres.
Pakar komunikasi politik Effendi Gazali mengatakan, siapa pun capres mendatang akan menanggung beban yang cukup berat karena banyaknya permasalahan yang ditinggalkan pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Ke depan, ujarnya, Indonesia harus memiliki karakter pemimpin yang lebih dari sekadar berkemampuan, tapi juga harus bisa menjawab berbagai tantangan keinginan masyarakat.
"Presiden 2014 menanggung beban yang cukup berat, karena berbagai permasalahan yang ditinggalkan.
Warisan masalah yang ada saat ini cukup besar. Oleh sebab itu, pemimpin Indonesia harus lebih dari sekadar mampu sebagai seorang pemimpin," katanya.