21.26
0

MANTAN Pangkostrad Letjen (pur) yang juga capres 2014, Prabowo Subianto
pada 28/02/2000  mengungkapkan kesaksiannya mengenai berbagai peristiwa menjelang
lengser-nya Soeharto. Selain itu, Prabowo berani membuka perseteruannya dengan Habibie
dan Jenderal TNI Wiranto secara cukup gamblang. Padahal, selama ini, Prabowo
berusaha menyembunyikan perseteruan itu.Dalam sebuah tulisan laporan utama
bertajuk ''Si Kambing Hitam?'' yang cukup panjang, majalah Asiaweek edisi
terbaru memasang wajah Prabowo dalam sampulnya. Majalah tersebut meminta
Prabowo bercerita dari sudut pandangnya sendiri tentang berbagai kesan
miring mengenai dirinya selama ini.

Tentang tuduhan memimpin pasukannya mengepung rumah Habibie dan Istana
Negara pada 21 Mei 1998 malam dan menjadi dalang (mastermind) kerusuhan
etnis di Jakarta, Prabowo menyangkal dengan keras. ''Saya tidak pernah
mengancam Habibie, saya tidak pernah berada di belakang kerusuhan 13-14 Mei.
Saya tidak pernah mengkhianati Pak Harto. Saya tidak pernah mengkhianati
negara saya sendiri.''

Tuduhan bahwa dirinya berniat ''menyandera'' Habibie itu dirasakan Prabowo
sebagai sesuatu yang berlebihan. Dia mengakui, sejak lama hubungan dirinya
dengan Habibie sangat baik. Sosok Habibie sendiri di mata Prabowo cukup
perfect.
Berbekal hubungan pribadi yang begitu dekat itu, Prabowo menuturkan, setelah
Soeharto terkena stroke pertama pada Desember 1997, Habibie -yang diakui
Prabowo sangat berpeluang menggantikan Soeharto- mengatakan hal penting
kepada dirinya.

''Berkali-kali dia mengatakan, 'Seandainya saya menjadi presiden, kamu akan
saya jadikan KSAD. Kamu akan jadi perwira berbintang empat','' tutur Prabowo
menirukan ucapan Habibie.



Hubungan yang terbina baik selama bertahun-tahun itu, menurut Prabowo,
terputus begitu saja ketika dia akan menghadap Habibie pada 22 Mei 1998 di
Istana Merdeka. Suasana yang begitu tegang ketika Prabowo menyerahkan
pistolnya kepada petugas Istana sebelum bertemu Habibie justru membuat
Prabowo bertanya-tanya sendiri.

''Saya berbuat menurut prosedur resmi. Tapi, saya diinformasikan mau
mengadakan kudeta. Informasi itu keliru. Saya percaya ada kelompok tertentu
yang menginginkan saya menjadi kambing hitam untuk menutupi keterlibatan
mereka (dalam drama kerusuhan 13-14 Mei),'' ungkapnya.

Berbeda dengan hubungannya yang mulus dengan Habibie di waktu lalu, Prabowo
mengakui hubungannya dengan Wiranto sejak lama memang kurang akrab. Wiranto
tumbuh dalam budaya Jawa yang kuat, sedangkan Prabowo sangat kosmopolit.
Selain itu, Wiranto banyak bertugas sebagai perwira staf kodam, sedangkan
Prabowo besar dalam tugas-tugas pertempuran.

''Tidak ada jalinan hubungan baik di antara kami. Tidak pernah kami bertugas
dalam kesatuan yang sama. Kami berasal dari latar belakang yang berbeda,''
jelas Prabowo.

Saling asing satu sama lain ini, menurut Prabowo, sangat terasa ketika dia
gagal mencegah rencana Wiranto ke Malang pada 13 Mei 1998 untuk memimpin
upacara Kostrad di Malang. Wiranto secara tegas mengatakan ''Tidak!'' ketika
Prabowo memintanya untuk tidak datang ke Malang.

''Sepanjang hari itu, saya menelepon kantornya sebanyak delapan kali dan
semua jawabannya sama bahwa the show must go on,'' aku Prabowo.

Perbedaan dengan Wiranto kembali muncul ketika cuaca politik yang panas
menerpa Jakarta menjelang rencana Amien Rais mengumpulkan massa di Kompleks
Monas pada 19 Mei 1998. Dalam rapat perwira tinggi militer yang dipimpin
Wiranto menjelang showdown Amien Rais, Prabowo yang ikut dalam rapat sempat
mendengar ucapan mengejutkan dari Wiranto.

''Rapat yang dipimpin Wiranto mengatakan bahwa perintah yang dibuat adalah
mencegah masuknya para pendemo dengan segala cara (at all cost). Saya
bertanya berkali-kali apa maksud perintah itu. Apakah akan digunakan peluru
tajam. Dia (Wiranto) tidak memberikan jawaban jelas,'' tutur Prabowo.

Diungkapkan pula oleh mantan Pangkostrad itu bahwa salah satu peristiwa yang
sangat menyakitkan hatinya adalah peristiwa sehari sebelum dan sesudah
Soeharto lengser. Saat menghadapi Habibie, dia berkata, ''Pak, bapak sepuh
mungkin akan lengser. Siapkah Anda menggantikannya. Dia (Habibie) menjawab
'Ya, ya, ya'. Selanjutnya, saya meminta dia untuk mempersiapkan diri.''

Merasa apa yang dilakukannya secara konstitusional dibenarkan, Prabowo lega.
Aksi-aksi di Jakarta dia duga akan berangsur-angsur mereda dan langkah
Pangdam Jaya Sjafrie Samsoeddin mengatasi massa sangat tepat. Namun, ketika
Soeharto sudah lengser, Prabowo tidak menyangka akan diperlakukan
semena-mena oleh keluarga mertuanya itu.

Ketika Prabowo menuju rumah Soeharto, dia melihat Soeharto duduk dikelilingi
kelompok Wiranto. Dia menuturkan lagi, begitu wajahnya terlihat, putri
bungsu Soeharto, Siti Endang Hutami Adiningsih atau Mamiek, langsung
menghardik Prabowo dengan kasar. ''Dia menatap saya, mengacungkan jari
telunjuknya hanya berjarak satu inci tepat di muka hidungku, sambil berkata,
'Kamu pengkhianat. Jangan injakkan kakimu di rumah saya lagi'. Saya kemudian
keluar dan istrinya saya, Titik, menangis,'' urai Prabowo.

Pada 22 Mei 1998, sesudah salat Jumat, Prabowo di Makostrad ditelepon Mabes
AD. Prabowo diminta menanggalkan benderanya. Perintah itu dia artikan, tak
lain, adalah bahwa dirinya akan diganti. Merasa ada yang kurang beres,
Prabowo langsung menghadap Habibie di istana. Langkah itu, meski berisiko,
dia ambil karena alasan kuat.

''Saya ingat perkataan Habibie. 'Prabowo, kapan pun kamu ragu, temui saya
setiap waktu dan jangan berpikir tentang protokol'. Saya kenal betul dengan
Habibie selama bertahun-tahun. Saya jawab oke.''

Setelah melalui momen cukup tegang saat bertemu para petugas protokoler
istana, Prabowo langsung menemui Habibie. Begitu bertemu, Habibie langsung
mencium kedua belah pipinya. Kemudian, Prabowo berkata, ''Pak, apakah Anda
sudah mendengar saya akan diganti? Dia mengatakan 'Ya, ya, ya'. Setelah itu,
dia (Habibie) berkata bahwa mertua saya (Pak Harto) meminta agar saya
diganti. Katanya, itu yang terbaik. Jika saya berhenti dari dinas di AD, dia
akan menunjuk saya menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat.''

Prabowo mengaku sangat terkejut mendengar ucapan Habibie itu. Dia langsung
pamitan keluar dan berusaha menemui KSAD Subagyo Hadisiswoyo ketika itu.
Dalam perjalanan menuju Mabes AD, Prabowo sempat bertemu para jenderal
pendukungnya. Kolega-koleganya itu berpesan, ''Mari kita konfrontasi saja!''
Mendengar pesan tersebut, Prabowo mengaku hanya bisa diam.

Setelah itu, Prabowo bertemu Danjen Kopassus Muchdi Purwopranjono dan
sepakat membangun persepsi bahwa pergantian Pangkostrad tersebut hendaknya
tetaplah dikesankan sebagai pergantian biasa. Pesan ini disampaikan kepada
Subagyo. Lantas, Subagyo yang juga senior Prabowo itu menghadap Wiranto.

Usulan manis tersebut ternyata tak digubris Wiranto. Prabowo memperoleh
kabar dari Subagyo bahwa Wiranto tidak mau ada penundaan penggantian
Pangkostrad. ''Wiranto mengatakan penggantian Pangkostrad harus terjadi hari
itu juga,'' tutur Prabowo.

Sementara itu, tentang tuduhan berada di belakang kerusuhan etnis 13-14 Mei
di Jakarta, Prabowo secara tegas mengatakan bahwa tuduhan itu sangat tidak
berdasar. Prabowo tahu persis bahwa menghancurkan Cina di Indonesia akan
merugikan Indonesia sendiri. ''Siapa pun tidak bisa memungkiri orang Cina
memainkan peranan sangat besar dalam perekonomian kita. Sangat tidak masuk
akal menghancurkan mereka,'' tegasnya.

Prabowo juga amat menyayangkan sikap Menko Polkam Feisal Tanjung dan Pangab
Wiranto yang konsisten menyangkal bahwa perintah membuat kerusuhan tersebut
berasal dari mereka atau datang langsung dari Soeharto sebagai Pangti.
Tuduhan bahwa perintah tersebut berasal dari Prabowo justru hanya didengar
Prabowo dari siaran-siaran radio.

''Orang-orang itu (Feisal dan Wiranto) tidak mempunyai keberanian untuk
menghadapi saya atau memanggil saya. Harus saya katakan. Segala sesuatu yang
saya lakukan, semuanya sepengetahuan para atasan saya, dengan restu dan di
bawah perintah mereka langsung,'' tandasnya.

Prabowo mengakui, mungkin saja perintah itu tidak dalam satu rangkaian
komando. Sebab, tuturnya, bos-bosnya itu senang bekerja secara
melompat-lompat dalam berbagai level. Bagi dia sendiri, operasi dilakukan
semata-mata untuk menghentikan kampanye teror. Dia juga secara tulus
mengakui pernah bersikap kurang hati-hati. Namun, dia memastikan bahwa
dirinya tidak pernah memperoleh order menyiksa orang.***



Comments
0 Comments

0 komentar: