Prabowo merasa "dijebak" saat meletus kerusuhan Mei 1998. Benarkah Wiranto sengaja meninggalkannya di Jakarta?
Dua tahun berlalu, sejak terjadinya
kerusuhan berdarah bulan Mei 1998. Letjen (purn.) Prabowo Subianto
merasa sudah saatnya bicara blak-blakan. Mutasi besar-besaran di tubuh
TNI yang digambarkan sejumlah pengamat militer sebagai upaya
"de-Wiranto-isasi", mungkin dianggapnya sebagai momen yang tepat untuk
menumpahkan uneg-unegnya. Selama ini, ia hanya bersikap defensive
menanggapi pemberitaan di berbagai media massa yang dianggapnya terlalu
menyudutkan dirinya.
Ketika ia
merasa harus bicara, pun media yang dipilihnya bukan dari dalam negeri
-yang dikhawatirkan tidak independen dari kekuatan politik tertentu-
melainkan mingguan berbahasa Inggris, Asiaweek.. Keengganan Prabowo
berbicara selama ini, mau tak mau telah menjadikan peristiwa kerusuhan
Mei '98 hanya sebagai cerita tentang gagalnya upaya "kudeta militer"
oleh Prabowo dan kawan-kawan (sikap diamnya memang bias dimengerti,
sebab ia toh merasa tak ada gunanya membela diri dalam situasi yang
takkan menguntungkan dirinya. Beberapa saat sebelum pecahnya kerusuhan
Mei, bersama sejumlah perwira muda Kopassus, ia dianggap
bertanggungjawab terhadap penculikan dan penyiksaan sejumlah aktifis
HAM). Dalam versi yang terlanjur berkembang, Prabowo dianggap sebagai
orang yang menggerakkan sejumlah provokator untuk membakar emosi massa,
serta dicurigai hendak mengambil alih kekuasaan dari tangan Habibie.
Versi yang
diungkapkan Prabowo sungguh bertolak belakang. Ia mengungkap sejumlah
fakta yang selama ini tidak diperoleh media massa mengenai cerita
seputar kerusuhan Mei. Misalnya, ketika pembakaran dan penjarahan sudah
mulai terjadi di Jakarta pada 13 Mei 1998, Prabowo yang ketika itu masih
menjabat sebagai Pangkostrad mengaku telah menghubungi Panglima ABRI,
Wiranto untuk mendapatkan perintah agar bias mengendalikan keadaan.
Bahkan, ia mengusulkan agar pawai kemiliteran di Malang yang dihadiri
Wiranto saat itu, dibatalkan saja. "Delapan kali saya menelepon
kantornya, delapan kali pula saya mendapat jawaban, the show must go on, pertunjukkan harus dilanjutkan," ungkap Prabowo.
Cerita Prabowo
selanjutnya berkisar tentang upaya "penyingkiran" dirinya secara
sistematis oleh kubu Wiranto. Hal ini bermula dari keluarnya pernyataan
pers dari markas angkatan bersenjata, setelah terjadinya kerusuhan, yang
mendukung sikap organisasi massa NU -sebelumnya, NU menyatakan supaya
Presiden Soeharto mundur dari jabatan. Membaca surat itu, Soeharto
meminta Prabowo melacak dari mana asal surat yang tidak ditandatangani
itu. Anehnya, tak ada satu pun perwira tinggi mengaku telah membuat
surat itu. Meskipun menurut Prabowo, kopi faksimili surat itu
diperolehnya dari kantor Kapuspen ABRI, Brigjen A. Wahab Mokodongan.
Belakangan,
setelah Soeharto mundur, keluarga Cendana menyalahkan Prabowo. Ia
dianggap pengkhianat. Pasalnya, banyak laporan sampai ke telinga
Soeharto yang mengatakan bahwa Prabowo dan Habibie, beberapa waktu
sebelumnya, telah mengadakan pertemuan berkali-kali. Di samping laporan
bahwa Prabowo melakukan pertemuan pada 14 Mei dengan Adnan Buyung
Nasution dan sejumlah tokoh lain. Hal ini diartikan sebagai upaya
terencana untuk menyingkirkan Soeharto. Dengan demikian, segala
kesalahan pun ditumpahkan ke mukanya -termasuk pernyataan pers misterius
itu.
Prabowo
mengaku, ia memang sempat bertemu Habibie setelah terjadinya kerusuhan.
Namun, menurutnya, konteks pertemuan itu bukanlah untuk merebut
kekuasaan, melainkan "untuk membicarakan cara terbaik menenangkan
kekerasan." Secara logis, Prabowo merasa tidak mempunyai motif apa pun
untuk merebut kekuasaan. "Saya adalah bagian dari rezim Soeharto.
Seandainya Soeharto bertahan tiga tahun lagi saja, saya sangat mungkin
berpangkat jenderal berbintang empat. Mengapa saya harus menyulut
kerusuhan?" tanyanya.
Mengenai
pertemuan dengan Adnan Buyung Nasutian dan kawan-kawan, baginya sama
sekali tidak ada relevansinya dengan kudeta. Pertemuan itu sendiri,
bukan ia yang menghendaki, tapi pihak Buyung. Sedangkan pertemuannya
"secara baik-baik" dengan Habibie, membuktikan bahwa ia waktu itu tidak
hendak "mengepung" dan mengambil-alih kekuasaan seperti yang dituduhkan
Habibie padanya.
Dari
ceritanya, tampak sekali bahwa Prabowo ingin menunjukkan diri sebagai
korban yang terperangkap dalam situasi yang merugikan. Pertama, ketika
kerusuhan terjadi, Wiranto tidak berada di ibukota. Dengan sendirinya,
karena Prabowo dan Sjafrie Sjamsuddin (waktu itu Pangdam Jaya -red.)
yang berada di Jakarta, merekalah yang dianggap paling bertanggungjawab
atas keamanan. Kedua, meskipun sudah meminta mandat, Wiranto sebagai
Panglima tidak berbuat apa-apa. Di sini terkesan pula, Prabowo ingin
mengatakan bahwa seharusnya Wiranto yang bertanggungjawab. Memang,
sejumlah pertanyaan muncul, mengapa Wiranto bersikeras membawa sejumlah
perwira tinggi pada 14 Mei 1998? Siapa yang bertanggungjawab atas
pembuatan pernyataan pers militer tentang Soeharto? Lalu, mengapa
Panglima TNI membiarkan mahasiswa terus berada di Gedung DPR/MPR sampai
Soeharto jatuh?
Prabowo tak
langsung menjawabnya. "Saya harus adil pada Wiranto. Ia memang
menginginkan reformasi, namun ia juga punya ambisi-ambisi politik,"
ujarnya diplomatis. Prabowo diganti oleh Djohny Lumintang pada 22 Mei
1998, setelah Habibie naik takhta dan Wiranto, sebagai Menhankam/Pangab,
berjanji untuk melindungi Soeharto dan keluarganya.
"Dosa-dosa" Prabowo semakin dilegitimasi
dengan terbentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk
menginvestigasi terjadinya kerusuhan Mei 1998. Dalam laporannya, TPGF
menyimpulkan, peristiwa penculikan para aktifis HAM berhubungan erat
dengan kerusuhan Mei 1998. Hal yang menurut Prabowo lebih merupakan
opini ketimbang fakta. Munir, Ketua Kontras pun mengakui ada perbedaan
mendasar antara peristiwa penculikan aktifis dengan kerusuhan Mei.
Katanya,
peristiwa Mei merupakan gerakan dari elit untuk perubahan politik.
Sementara perisitiwa penculikan, merupakan konspirasi untuk
mempertahankan sistem yang ada. Mengenai peristiwa penculikan aktifis,
Prabowo sama sekali tidak menyangkalnya. Ia mengakuinya. Namun,
menurutnya, apa yang dilakukannya itu tidak terlepas dari pengetahuan
para atasan.
Apa yang
dikemukakan oleh Prabowo, bagaimanapun telah memberi perspektif baru
dalam melihat kembali tragedi berdarah Mei 1998. Soal apakah ceritanya
benar atau tidak, sulit untuk ditentukan. Toh ia bukan orang suci.
Wiranto dan Prabowo, masing-masing berbicara atas nama subyektifitas.
Bisa jadi, malah kedua-duanya tidak benar. (*)
Sumber: http://www.mail-archive.com/siarlist@minipostgresql.org/msg02944.html
