Sejak agama-agama muncul di permukaan bumi,
mulailah proses pencarian dunia baru yang berakhir
dengan penaklukan demi penaklukkan. Para penyebar
agama berlayar menuju negeri-negeri yang dilanda
kegelapan untuk mewartakan terang. Di negeri baru itu
pewartaan berlangsung, selalu berbenturan dengan
agama dan kebudayaan asli, percecokankan mulai,
darah dan air mata tertumpah. Para martir agama tetap
bersikukuh dengan resiko nyawa melayang.
Sejarah penaklukan bangsa-bangsa non beragama terus
berlangsung. Mula-mula di Eropa, Arab dan India,
tempat di mana agama-agama besar menemukan
ziarah pertama. Mereka seperti menemukan lawan pada
kebiasaan asli, raksasa-raksasa dan kehidupan mitis
magis yang dikatakan sebagai bangsa yang sedang
tinggal dalam kegelapan.
Lalu bersamaan dengan imperium idiologi, agama
menjalar ke Asia, Afrika dan Amerika Latin. Penaklukan
atas nama idiologi dan agamapun berlangsung.
Kebudayaan-kebudayaan asli benua Amerika menjadi
hancur lebur, demikianpun kebudayaan asli Asia, Afrika
dan Australia. Berbeda dengan bangsa Arab yang
menyebarkan agama praktis dengan sedikit kekerasan,
bangsa-bangsa Eropa datang dengan superioritas
idiologi dan teologi bertemu dengan masyarakat asli
yang masih primitif dan perlu diajari dalam segala-
galanya. Demikianlah sejarah mencatat, 350 tahun lebih
bangsa Indonesia meringkuk di bawah bayangan
kekuasaan Eropa, juga negara-negara Afrika, Asia dan
Amerika Latin lainnya. Selama abad-abad penjajahan
itu, bangsa-bangsa Eropa dengan superioritas idiologi
dan agama membangun ghetto kultural bahkan
memunculkan dirinya sebagai pengelola dan
pendamping bagi bangsa-bangsa yang belum dewasa
atau merdeka.
Sejarah persaingan idiologi menyisahkan 2 perang dunia
yakni perang dunia I dan II, dan sebuah perang dingin
yang memuculkan perbedaan dan juga korban jutaan
manusia dan material. Perang memang membawa
kehancuran luar biasa. Hampir pasti, penduduk yang
tinggal di pulau-pulau dan benua-benua di mana
mereka menyaksikan pertempuran itu meledak selalu
hidup dalam ketakutan luar biasa, ketakutan untuk
dibunuh atau disiksa atau dirampok.
Agama dan idiologi dengan segala persaingannya
ternyata tidak mampu menyatukan dunia, malahan
telah membuat dunia terbagi-bagi dan terkotak-kotak
dan terus terancam hancur berkeping-keping. Agama
dan idiologi tak mampu menyatukan dunia, semakin
mereka berjuang, dunia menjadi seperti semakin jauh
dari mereka. Bulan Desember 1991, Uni Sovyet runtuh.
Kekuatan negara adidaya besar dunia yang menguasai
sebagian dunia menjadi hancur. Idiologi yang
dipeloporinya juga ikut hancur. Ternyata idiologi tak
mampu bertahan lama, ia berumur pendek dan tak juga
mampu menyatukan dunia. Pertikaian antara agama,
suku dan idiologi terus berlangsung, meskipun tidak
secara jelas namun tersamar. Kini Uni Sovyet datang
dalam bentuk Rusia, sebuah negara adidaya baru yang
berdiri dan mengambil alih segala warisan idiologi dan
kekuatan Uni Sovyet.
Kini terorisme sedang menggerogoti dunia. Idiologi
terorisme membuat dunia sedang berada di ambang
kehancuran. Terorisme kini merupakan idiologi baru
yang secara terang-terang menyatakan memerangi
negara-negara. Perangpun tak bisa dihindari. Ya, perang
dunia III ialah perang antara negara-negara di seluruh
dunia pimpinan AS dan Inggris terhadap terorisme.
Indonesia sebagai negara Pancasilapun menyatakan
bahwa terorisme merupakan musuh negara, lawan
negara. Setuju.
Adalah Friederich Nietsche (1844-1900), seorang filsuf
kenamaan Jerman yang mempopulerkan ide tentang
"kematian Tuhan" setelah mempelajari situasi bangsa-
bangsa Eropa yang sedang giat-giatnya menancapkan
kekuatan kolonialismenya di seluruh dunia. Nietsche
berpendapat bahwa manusia ialah "sang pembunuh
Tuhan". Filsuf Nietche memposisikan manusia sebagai
manusia purna dengan kehendak kuatnya untuk
berkuasa. Dengan kehendak kuat dan purnanya,
manusia telah membunuh Tuhan demi memuluskan
kehendak manusia untuk berkuasa.
Ide Nietsche ini memang sejalan dengan keinginan dan
kekuatan bangsa-bangsa barat ketika itu yang terus
menindas kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah di Asia,
Afrika dan Amerika Latin. Tuhan telah mati sebab
manusia telah membunuhnya. Siapa sangka bahwa
kemudian Tuhan yang diwartakan oleh bangsa Eropa itu
tak pernah dimiliki seutuhnya oleh bangsa penakluk.
Tuhan ternyata juga milik bangsa terjajah dan bangsa
penjajah telah membunuhnya. Tentu ini malapetaka
terbesar dalam sejarah dunia.
Entahkah sistem atau keadaan mana yang mampu
mempersatukan dunia, tapi yang pasti bahwa bila
manusia hidup dalam suasana penuh cinta dan
pengasihan, maka manusia akan semakin mudah untuk
dipersatukan sebab hanya cintalah yang akan
mempertemukan manusia kembali. Bila semua
manusia hidup dalam cinta kasih dan pengasihan, maka
manusia akan hidup dalam damai. Memang dunia
hanya dapat dipersatukan dalam cinta kasih yang
menjadi hukum tertinggi dari semua agama-agama
besar dan bahkan idiologi-idiologi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)