Saya adalah sekretaris Gabungan Organisasi
Wanita (GOW) yang diketuai oleh Ibu Wakil Bupati.
Pada pemilu ini Beliau mencalonkan diri dari partai
Besar di Negri ini dengan nomor urut 2. Profil ibu
Wakil Bupati ini sangat sederhana, Beliau merakyat
dan tidak suka berdandan glamour seperti
kebayakan pejabat lainnya. Saya mengagumi
pribadi Beliau dan berharap dia bisa menang dalam
pemilu kali ini.
Sebagai gambaran bahwa ibu wakil bupati ini sangat
dekat dengan masyarakat, ketika Beliau mau
datang, saat Saya undang untuk peresmian jalan
yang dibangun PNPM Mandiri Perdesaan tahun lalu.
Untuk sampai ke tujuan, harus berjalan kaki selama
2 jam karena hari hujan, mobil tidak bisa masuk.
Beliau datang bersama Bapak Wabup. Dengan riang,
Beliau berjalan kaki bersama masyarakat sambil
bercanda tanpa canggung sama sekali.
Di lain kesempatan Beliau juga sangat mudah
memberi pertolongan kepada masyarakat yang
terkena musibah. walhasil….setiap Ramadhan tiba,
kami, punya agenda rutin bertajuk “GOW Ketok
Pintu” yang khusus berkunjung kepada masyarakat
dari rumah ke rumah tanpa pemberitahuan
sebelumnya, untuk memberikan bantuan sembako.
Setiap tahun 200 rumah kami datangi langsung
untuk kegiatan tersebut. dan respon masyarakat,
luar biasa, ada yang menangis, ada yang terharu,
ada yang tak mampu berkata-kata, karena
rumahnya di datangi tamu, Ibu Wakil Bupati.
Saya mendampingi Beliau berkunjung ke lansia-
lansia yang hidup sendiri, karena tak memiliki
keluarga lagi atau karena ditinggal anak-anaknya
yang beranjak dewasa. Kami juga, sering
berkunjung ke rumah janda-janda miskin yang
penampilannya kasar layaknya seorang laki-laki,
karena kondisi yang menciptakan mereka seperti
itu. Saya juga menyaksikan Beliau tidak sungkan
mengendong anak-anak balita yg terlahir cacat dan
berpenampilan kumuh.
Sebagai sekretaris Sayalah orang pertama yang
akan Beliau ajak ke lapangan untuk mengunjungi
korban kebakaran, korban KDRT, korban perkosaan
dengan waktu yang cukup menyita. Tiga tahun Saya
mendampingi Beliau, tepatnya sejak tahun 2010.
Beliau tidak punya pengawal khusus di rumahnya
sehingga kapanpun masyarakat bisa menemuinya,
masyarakat boleh bertamu di rumah dinas tanpa
protokoler yang rumit. Ibu Wakil Bupati akan
menjamu tamu-tamunya dengan mpek-mpek khas
palembang yang tak pernah putus di lemari
pendinginnya. semua orang menyukai keramahan
Beliau.
Pada saat berkampanye…Saya tidak ikut
mendampingi krn Saya sedang hamil tua. Beliaupun
maklum……
Saya tidak tahu seperti apa model kampanye yang
Beliau lakukan dalam pencalonan ini. yang jelas
spanduk dan poster betebaran nama Beliau, Saya
yakin Beliau akan menang. Saya berpikir postif,
karena Saya mengenal baik Beliau. sekali lagi Saya
yakin Beliau akan terpilih.
Pada hari H pencoblosan, selesai menunaikan
kewajiban Saya sebagai warga negara yang baik,
Saya teringat Beliau. Hari itu usia anak Saya sudah
31 hari, jadi, Saya pikir bolehlah Saya tinggal
sebentar. entah mengapa ada perasaan tidak
nyaman di hati Saya. Saya ingin bertemu Beliau,
melihat kondisinya dan ikut berdoa untuk
kemenangan Beliau.
Seperti biasa, Saya disambut dengan baik di
rumahnya. suasana cukup ramai di sana. Saya
peluk Beliau dan sambil bercanda, Saya berkata:
“Telinga Saya terasa panas dan berdenging Bunda,
anak Saya kalo mau terima raport pasti begitu lho…
dan itu pertanda kalo dia juara umum. Hehehe…Ibu
yang calon, kenapa Saya yang gelisah ya?”
Beliau ikut sumringah
Kami bicara seperti biasa, ketika itu ada Bapak
Wakil Bupati juga yang sedang asyik nonton hitung
cepat di TV. Beberapa saat kemudian ada dua
wanita muncul dan melaporkan bahwa mereka
sudah menyelesaikan membagi-bagi nasi bungkus
untuk para saksi. mereka bercerita bahwa hanya
saksi dari partai ibu saja yang di antarin nasi. saksi
dari partai lain tidak. sehingga ada beberapa saksi
yang ingin minta jatah juga. Kembali Saya
menyaksikan kebaikan hati Beliau saat itu, Beliau
berkata, bahwa orang-orang yang minta dari partai
lain itu, harus dikasih juga, Karena, mereka itu
menjadi untuk saksi partai kita juga. Itu sebabnya,
Ibu membungkus lebih, agar mereka yang ada
dikasi semua, tak perduli dari partai apa.
Disaat kami sedang berbincang-bincang, Bapak
Wabup ikut nimbrung.
” Yes…ini langkah awal Bapak untuk pencalonan
Bupati tahun depan. Jika dengan “cara” ini kita
menang, berarti masyarakat sudah cerdas memilih.
Kita sudah berusaha berbuat baik untuk
masyarakat, siapa yang tidak kenal dengan
ibu?.Masyarakat bebas mau bertemu, minta
pertolongan atau ada hajat lainnya. dan mereka kita
layani sebaik mungkin. Hari ini, kita akan lihat
apakah kebaikan akan mengalahkan orang-rang
yang menghambur-hamburkan uang untuk membeli
suara mereka. Jika ibu berhasil, berarti ini akan
berlanjut. Namun jika tidak, berarti masyarakat
belum cukup cerdas, karena mereka cuma ingat di
ujung pencoblosan saja. Ibu mencalonkan, memang
tidak bagi-bagi uang, tetapi kita sudah menunjukan
kerja kita pada mereka selama tiga tahun ini, kita
melayani mereka, semampu yang kita mampu,
sebaik yang bisa kita lakukan. Meskipun demikian,
kita tidak tahu hasilnya bagaimana nanti”
Hmmm…..Saya cuma tersenyum, dan berdoa.
Semoga kebaikan mampu mengalahkan uang
limapuluh ribu atau seratus ribu
Dan, pagi ini hasil suara sementara Ibu Wakil Bupati
hanya mendapat suara 300-an, apa yang harus
Saya katakan? Saya belum menghubungi Beliau
atas berita duka ini, Saya juga tidak tahu harus
bicara apa ke Beliau. Saya hanya sedih . Apakah
benar kebaikan itu sudah pudar di hati masyarakat
kita? entahlah…………
(Kisah nyata, seperti yang diceritakan Ibu
Sekretaris GOW kemarin, Jum’at (11/4/2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)