Ketika gerakan feminis menjadi matang, tokoh-tokoh penting perempuan dari zaman dahulu dicari dan keberhasilan mereka semakin dipublikasikan.
Hatshepsut berubah dari pemimpin Mesir yang paling tak dikenal pada awal abad ke-20 menjadi tokoh paling terkenal dari negara itu pada akhir abad tersebut.
Berbagai biografi seperti misalnya Hatshepsut oleh Evelyn Wells meromantisasikannya sebagai perempuan yang cantik dan pasifis "perempuan besar pertama dalam Sejarah". Hal ini cukup berlawanan dengan pandangan abad ke-19 tentang Hatshepsut yang melukiskannya sebagai ibu tiri yang kejam, yang merebut takhta dari Thutmose III .
Novel Mara, Daughter of the Nile oleh Eloise Jarvis McGraw , mempertahankan pandangan tentang ibu tiri yang kejam dengan menempatkan Hatshepsut sebagai tokoh utama cerita itu. Plotnya berkembang sekitar upaya-upaya Mara, seorang budak perempuan, dan sejumlah bangsawan untuk menggulingkan Hatshepsut dan mengangkat pewaris yang "sah", Thutmose III, sebagai Firaun. Mereka mempersalahkan berbagai proyek pembangunan Hatshepsut sebagai penyebab kebangkrutan negara Mesir. Ia juga digambarkan telah menahan Thutmose III sebagai tawanan di lingkungan tembok istana.
Pada 1960 sebuah lingkaran utama asteroid yang ditemukan oleh Cornelis Johannes van Houten , Ingrid van Houten-Groeneveld dan Tom Gehrels dinamai 2436 Hatshepsut untuk menghormatinya. Ada teori popular yang menyatakan bahwa Hatshepsut adalah putri yang menemukan Musa saat terapung-apung di sungai Nil, namun teori ini umumnya dibantah oleh para Egiptologiwan dan pakar Alkitab. Sekurang-kurangnya ada tiga pengarang yang telah menulis novel fiksi sejarah yang menggambarkan Hatshepsut sebagai pahlawannya: Hatshepsut: Daughter of Amun oleh Moyra Caldecott , Child of the Morning oleh Pauline Gedge dan Pharaoh oleh Eloise Jarvis McGraw , dan seri novel misteri Lieutenant Bak yang mengambil tempat pada masa pemerintahannya.
Hatshepsut juga muncul dalam plot Illinois Jane and the Pyramid of Peril, sebuah sandiwara lucu oleh T.
James Belich (Colorado Tolston). Di sini dilukiskan Hatshepsut menemukan ramuan panjang umur. Dalam cerita ini, hilangnya Hatshepsut digambarkan telah menyebabkan ia abadi, meskipun ia tak pernah secara langsung tampil dalam sandiwara ini.
Humoris Amerika, Will Cuppy , menulis sebuah esai tentang Hatshepsut yang diterbitkan setelah kematiannya dalam buku The Decline and Fall of Practically Everybody . Tentang salah satu tulisannya di dinding, ia menulis,Dalam pertunjukan laga hidup untuk anak-anak, The Secret of Isis (1975), tokoh utamanya, Andrea Thomas, menemukan sebuah jimat Mesir kuno dan kemudian menyadari bahwa ia adalah seorang keturunan Hatshepsut dan pewaris daya kekuatan Isis.