Partai Politik berbasis agama Islam di awal-awal
kampanye Pemilu Legislatif 2014 malu-malu
mengatakan parpolnya berbasis Agama
Islam,hampir semuanya mengatakan sebagai
"Partai Terbuka" kecuali Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) ; Bahkan PKS pun
menyatakan diri sebagai "Partai Terbuka" di
kampanyenya dengan menghadirkan paduan
suara Gereja Spiritus Santos dari Kab.Ende,NTT ;
PKB merekrut Rusdi Kirana "boss" Lion Air untuk
terlihat sebagai partai yang mengusung
pluralisme.
Tetapi anehnya,setelah hasil "Quick Count" Pileg
2014 diumumkan,parpol-2 berbasis agama Islam
itu cukup menyolok peningkatan
suaranya,secara khusus adalah PKB ; Maka
suara sektarian muncul sangat kencang,bahwa
partai Islam masih eksis dan bahkan keinginan
untuk menyatukan parpol-2 Islam tersebut
menjadi sebuah kekuatan baru bernama "poros
tengah" bermunculan. Mereka seakan
melupakan "mulut manis" di kampanye yang
lalu,bahwa parpol-nya adalah partai
terbuka,bukan partai berbasis agama Islam. Jadi
siapa yang sebenarnya tertipu....? Atau siapa
menipu siapa....?
Permainan politik seperti itu akan membawa
bencana politik,karena parpol-2 itu telah menjual
oportunistik kepada rakyat Indonesia.
Mengajarkan sifat oportunis kepada rakyat
sangat berbahaya dan cenderung tidak bermoral.
Parpol yang konsisten dengan pejuangan
Nasionalisme seperti
PDIP,Nasdem,Demokrat,Gerindra serta Golkar
suaranya terpecah-pecah karena faktor figur.
Sedangkan parpol berbasis agama Islam
terpecah karena faktor perbedaan
keyakinan,contohnya kaum Nadhiyin (PKB) dan
kaum Muhamaddiyah (PAN) serta PKS yang
diyakini membawa aliran Ikhwanul Muslimin ;
Sekali lagi,PPP lebih konsisten sebagai parpol
Islam dengan lambang partai tetap "Ka'abah"
dengan massa Islam dari semua keyakinan.
Dengan pola perolehan suara itu,lebih baik semua
parpol memantapkan hati untuk bermain cantik
yaitu melakukan penggabungan kerjasama atau
koalisi antara parpol yang berbasis Nasionalisme
dan parpol yang berbasis agama Islam. Dengan
demikian rakyat diajarkan sesuatu yang prinsip
di politik yaitu "konsisten" bukan politik "mencla-
mencle" yang menghalalkan segala cara. Kalau
perjuangan parpol berbasis agama Islam
memang baik,pasti rakyat akan mempercayakan
kepemimpinan negeri ini kepada pemimpin yang
bernafaskan Islam,tidak perlu membawa politik
SARA dengan menghantam pribadi seseorang
dengan sikap rasisme.
Demikian pula dengan parpol-2 yang berbasis
Nasionalisme,daripada berebut kue kekuasaan
sehingga tidak jelas Indonesia secara utuh mau
dibawa kemana,maka lebih baik bersatu untuk
"berhadapan" dengan ideologi yang dibawa
parpol berbasis agama Islam. Bila memang
terdapat stock pemimpin dari golongan
Nasionalisme yang mumpuni,silahkan
ditampilkan untuk diperhadapkan dengan
pemimpin dari parpol yang berbasis agama
Islam. Biarlah rakyat memilih yang terbaik,mau
yang Nasionalisme ataukah berbasis agama
Islam...?
Akibat tidak jelas parpol-2 yang di
Indonesia,maka kesan membagi-bagi kue
kekuasaan di Republik ini sangat kentara sekali.
Mereka berebut kekuasaan bukan untuk
kesejahteraan rakyat,tetapi untuk pribadi dan
golongannya sendiri. NKRI sebagai harga mati
sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara
rawan pecah bila kondisi politik seperti sekarang
ini.
Bagaimana pendapat anda?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)