07.18
0

Membaca buku “33 Tokoh Sastra Indonesia
Paling Berpengaruh” karya Jamal D. Rahman
dan kawan-kawan rasanya seperti berwisata di
taman sastra. Bak galibnya sebuah taman, di
taman ini hidup beraneka tumbuhan. Ada
tanaman masa lampau yang tumbuh subur ,
tinggi menjulang dengan dedaunan yang rimbun
sebagai tempat istirahat di bawahnya. Ada pula
tanaman baru yang tumbuh subur, walau nampak
kurang teratur. Kesan kuat pertama  yang
muncul: taman ini kurang terawat.
Sesuai julukannya taman sastra, pasti yang
dimaksud pohon di sini adalah pohon pemikiran
para sastrawan. Para sastrawan perintis sejak
sebelum Indonesia merdeka telah menyajikan
pohon-pohon pemikiran raksasa yang tetap
menjadi rujukan bagi generasi sastrawan
berikutnya. Pohon pemikiran sastrawan pasca 17
Agustus 1945 tidak kalah besar dan hebat.
Demikian pula pohon pemikiran sastrawan jaman
Orde Baru dan jaman Orde Reformasi  tumbuh
subur warna-warni. Tapi, sekali lagi semua
pohon besar pemikiran itu kurang dirawat,
seperti tumbuh di tempat yang salah, kurang
apresiasi, akibat kurang sosialisasi dan promosi.
Sayang, karena kurang diurus, berwisata ke
taman sastra ini seperti ziarah ke kuburan yang
sunyi-sepi. Padahal,  mereka yang dimakamkan
di situ sewaktu masih hidup  ramai dengan
pemikiran-pemikiran fenomenal dan monumental
dan semuanya itu diwariskan dalam bentuk
karya tulis brilyan yang hidup sepanjang jaman.
Mencermati riwayat hidup ke 33 tokoh sastra itu
dan membaca sebagian dari hasil karya mereka
seperti  membuka halaman-halaman sejarah
bangsa Indonesia.  Ya , sejarah  bangsa
Indonesia karena negara ini lahir dari mimpi dan
visi para sastrawan. Mereka adalah kaum
cendekiawan, budayawan, wartawan dan pejuang
sekaligus. Mengagumkan kepioniran dan
dedikasi mereka untuk kemajuan bangsa melalui
dunia sastra dengan segala duka-cita.
Bung Jamal bersama tujuh orang temannya,
yakni Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono,
Ahmad Gaus, Berthold  Damhauser, Joni
Ariadinata, Maman S Mahayana dan Nenden Lilis
Aisayh, menyebut diri mereka Tim Delapan.
Mereka merupakan generasi penerus
sastrawan  yang  patut diacungi jempol, karena
berhasil  napak tilas, mengumpulkan bahan-
bahan dan menyeleksi para sastrawan yang
pantas  disebut tokoh sastra. Menyeleksi ini
adalah pekerjaaan paling sulit dan perlu
keberanian tersendiri, karena pasti penuh pro -
kontra: mengapa dia masuk dan dia
(baca“saya”) tidak.
Setelah terpilih 33 tokoh, tim delapan menulis
rekam jejak mereka  secara apik dan
menyusunnya dalam bentuk buku bentuk buku
setebal 734 halaman yang kemudian diterbitkan
oleh Pusat  Dokumentasi Sastra HB Yassin.
Memang masih tersisa pertanyaan: mengapa 33,
tidak 50 atau 100 tokoh sastra?
Siapakah 33 tokoh itu? Sebagian besar adalah
sastrawan  yang sudah dikenal dan masuk buku
pelajaran dan ditulis media massa seperti
Marah Rusli, Muhammad Yamin, Armyn Pane,
HAMKA, Sutan Takdir Alisyahbana HB Yassin,
Rendra, Sutardji Chalzoum Bachri dan Emha
Ainun Najib. Tapi, ada juga tokoh yang sekarang
hampir tak pernah disebut namanya seoerti
Kwee Tek Hoay. Ada juga wajah-wajah  baru
Wowok Hesti Prabowo dan Ayu Utami sampai
selebriti Denny JA.
Mereka dipilih bukan semata karena kehebatan
karya sastra  mereka, tetapi dampak atau
pengaruh pribadi dan karya mereka dalam
menggerakkan perubahan menuju perbaikan
masyarakat, bangsa negara dan kemanusiaan
melalui dan juga demi kemajuan kesusatraan
sendiri.
Durhaka Pada Puisi.
Indonesia  dilihat  dari banyak segi cenderung
durhaka pada puisi sebagai ibu kandung yang
telah melahirkannya, yakni Sumpah Pemuda.
Benarkah demikian? Setelah membaca buku ini
dan mengamati keadaan sekarang, saya
membenarkan sinyalemen itu.
Secara genealogis, teks Sumpah Pemuda dapat
dirunut asal muasalnya pada puisi Muhmmad
Yamin (23 Agustus 1903-17 Oktober 1962), yang
berjudul “Tanah Air” (Jong Sumatra , Juli 1920),
“Bahasa , Bangsa” (Februari 1921), “Tanah
Air” (9 Desember 1922), yang lebih panjang dari
puisi sebelumnya, dan “Indonesia, Tumpah
Darahku”, 26 Oktober, 1928.
Jika Anda perhatikan naskah aslinya, Sumpah
Pemuda, yang dinyatakan 28 Oktber 1928, adalah
deklarasi dalam bentuk puisi. Bangsa Indonesia
mulai terbentuk sejak Sumpah Pemuda, yang
menyatakan bertanah air satu Indonesia,
berbangsa satu Indonesia dan menjunjung
bahasa persatuan , bahasa Indonesia.
Muhammad Yamin sebagai budayawan dan
sastrawan dengan berbagai  karya monumental
lainnya  yang berdasar sejarah seperti Sandya
Kalaning Madyapahit, Gajahmada  dan Pangeran
Dipanegara, kemudian menduduki posisi penting
dalam pemerintahan, antara lain sebagai menteri
pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.
Bentuk kedurhakaan itu adalah menjauhkan
sastra dari masyarakat Indonesia  dan atau
sebaliknya  adalah memisahkan ibu kandung
dari anaknya. Demikian pula
sebaliknya,menjauhkan masyarakat dari sastra
adalah memisahkan anak dari ibu kandungnya.
Ini jauh berbeda sekali dengan jaman kerajaan-
kerajaan besar Nusantara ketika sastrawan
disebut empu atau pujangga dan diangggap
sebagai guru spiritual dengan status sosial dan
penghormatan yang sangat tinggi.
Kurikulum 2013, menurut buku ini, justru
merupakan puncak kedurhakaan itu karena
sastra digusur habis tanpa banyak perdebatan.
Jika kedurhakaan ini dibiarkan terus berlanjut,
maka dapat dipastikan bangsa Indonesia akan
mengalami nasib seperti lazimnya anak-anak
durhaka.  Kisah Malin Kundang bisa jadi salah
satu contohnya.
Akibat kedurhakaan itu adalah apa yang terjadi di
masyarakat kita sekarang. Coba tanya siapakah
tokoh Indonesia, sangat boleh jadi jawabnya
adalah para selebriti, pejabat dan politisi
bermasalah. Maklum, mereka yang terus hadir di
panggung dan media massa, baik dalam bentuk
pemberitaan, talkshow dan iklan. Mereka dielu-
elukan, sementara budayawan dan sastrawan
hanya dipandang sebelah mata atau bahkan tidak
dilihat sama sekali, karena dianggap kaum yang
lusuh dan sekaligus musuh.
Pelawak, pemain sinetron, penyanyi pop
maupun dangdut juga menjadi tokoh-tokoh
utama di media massa. Sebaliknya, budayawan
dan sastrawan dengan buah karya mereka
nyaris tidak  tampil.  Lihat saja, berapa halaman
yang disediakan koran dan majalah untuk budaya
dan sastra dan frekwensinya per minggu. Jadi,
media massa, yang juga dilahirkan para
budayawan, ikut  berlaku durhaka.
Kedurhakaan selama ini telah melahirkan praktek
korupsi yang marak dari atas sampai bawah dan
rusaknya lingkungan dari hulu sampai hilir,  yang
mengakibatkan banjir di hampir seluruh pelosok
tanah air. Terbukti kata-kata Mohammad Iqbal ,
penyair dan filsuf terkenal dari Pakistan: “
Negara lahir dari tangan penyair. Jaya dan
runtuhnya di tangan politisi”.
Membersihkan kekuasaan kotor
John F Kennedy, Presiden Amerika Serikat yang
legendaris, mengakui dan mengagumi kekuatan
puisi sebagai pengingat, pengoreksi dan
penyeimbang dalam kehidupan manusia, orang
per orang, dan kekuasaan. Ia mengatakan, jika
kekuasaan membawa orang pada arogansi,
puisi mengingatkan kita akan keterbatasan
manusia. Jika kekuasaan mempersempit
krepedulian kita, puisi mengingatkan mereka
akan kaya dan beragamnya eksistensi manusia.
Dan, jika kekuasaan kotor, puisi
membersihkannya.
Itulah yang dilakukan para budayawan,
sastrawan, penyair dengan karya-karya mereka
yang menggugah, membangunkan, menggugat
dan membangkitkan gerakan massa untuk
mengoreksi kesalahan dan kemapanan yang
merugikan sepanjang jaman.
WS Rendra, penyair dan dramawan yang
terkenal dengan puisi dan dramanya yang
memberontak adalah satu contohnya.  Si Burung
Merak ini sejak awal 1970an menyuarakan
kepedihan derita kaum miskin dan koreksi
frontal kepada kekuasaan Orde Baru di bawah
Presiden Soeharto. Ia dibuntuti intelijen,
diintimaidasi dan bahhkan pernah ditahan karena
puisi  dan pementasan dramanya mengeritik
telak kekuasaan. Ini adalah bukti kekuatan puisi
yang ditakuiti oleh penguasa.
Rendra, lahir di Solo 7 November dan  wafat di
Jakarta 6 Agustus 2009,  adalah seorang penyair
yang pantang menyerah sepanjang hidupnya
untuk membela orang miskin dan menegakkan
kebenaran dan keadilan.
Kisah hidup dan  karya ke 31 tokoh lainnya tak
kalah menarik . Tidak percaya? Harap beli buku
itu dan baca sendiri deh! Ditanggung Anda tidak
akan kecewa dan  dijamin tidak akan
digolongkan sebagai  pendurhaka.
Terlepas pro dan kontra, ke 33 tokoh sastra itu
dan karya mereka wajib kita ziarahi sebagai
sumber inspirasi dan wahana instropeksi.

Sumber;
*Wartawan/aktivis sosbudling/ pendiri Dompet Dhuafa Republika (follow www.facebook.com/ parni.hadi.3 atau Twiter.com/ParniHadi01).


Comments
0 Comments

0 komentar: