02.42
0

Kebebasan berpikir dalam islam sering kali menjadi
sesuatu yang di kekang dan dipenjarakan oleh sebagian
umat beragama di Indonesia. Terlebih lagi penggunaan
akal dalam pembuktian keberadaan tuhan. Menurut
sebagian kalangan,dalam meyakini sebuah agama tidak
perlu lagi kita menggunakan akal, hanya karena
dikatakan akal manusia itu memiliki keterbatasan untuk
mengetahui hakikat keberadaan sang pencipta yang
maha tinggi. Alhasil, berabad-abad agama islam
tersampaikan kepada anak-cucu hanya melalui proses
genetika kemudian menjadi pemeluk islam yang sama
sekali tidak punya pondasi pengetahuan yang kuat atas
apa yang telah di yakini. Kenyataannya, kebanyakan
orang di Indonesia menjadi islam hanya karena faktor
“keluarga” bukan melalui proses pencarian atas
kebenaran yang sesungguhnya. Hasilnya pun,
menjadikan banyak pemeluk agama islam di Indonesia
menjadi islam pragmatis alias islam KTP tanpa
menjalankan syariat islam seutuhnya.
Celakanya lagi, belum apa-apa kita sudah dihakimi
sebagai insan pemuja akal, belum apa-apa sudah di
cemooh jangan gunakan akal untuk mencerna hal-hal
ketauhidan, karena “tidak akan terjangkau oleh akal”.
Lantas, saya ingin mengajukan pertanyaan, apakah
dengan demikian agama Islam tidak Ilmiah? Padahal di
luar sana jaman sudah berkembang, segala sesuatu
dituntut harus dengan logika, segala sesuatu dituntut
harus selaras dengan akal dan pikiran. Apakah kita
senang jika agama kita distempel sebagai agama yang
tidak Ilmiah? Lalu mencaci-maki orang-orang yang
telah menggunakan akal dan pikirannya? Bukalah mata,
lihatlah fakta, mereka yang tadinya non muslim
diberikan hidayah oleh Allah Swt karena mereka
menggunakan akalnya bahwa Islam adalah agama yang
Ilmiah, ilmiah di segala-galanya, termasuk hal-hal
ketauhidan. Sampai di sini, apakah kita sendiri sudah
bisa menjawab hal-hal ketauhidan dengan bahasa dan
kajian ilmiah? Jika belum, segera gunakan akal dan
pikiran, jangan biarkan akal dan pikiran kita terkubur
dalam liang dogma-dogma agama, bebaskan akal dan
pikiran untuk mencerna ayat-ayat Illahi yang
bertebaran di semesta raya ini.
Yakinilah bahwa Tuhan tidak membatasi, malah Tuhan
akan bangga dengan otak yang selalu bertanya tentang
Dia. Oleh karena itu, saya heran dengan orang yang
tidak mau menggunakan pikirannya, atau yang
menyarankan agar dia berpikir dalam batas-batas
tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Lalu,
mengapa berpikir hendak dibatasi?. Apakah Tuhan takut
terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan sendiri?
Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan
itu segar, hidup, tidak beku. Dan Dia tak akan mau
dibekukan (Ahmad Wahib:1965).
Terlepas dari hal diatas, bentuk nyata berpikir bebas itu
diwujudkan dalam ijtihad. Dimana Ijtihad merupakan
usaha untuk menyusun konsepsi Islam tentang
masalah keagamaan (akidah, ibadah, akhlak, dan
khilafah), dan usaha untuk menjawab persoalan-
persoalan kemanusiaan dengan berpegang pada
konsepsi Islam di atas. Dalam menafsirkan ayat-ayat
Alquran, kita harus menekankan pentingnya memahami
semangat jaman atau konteks ketika suatu ayat turun
(asbabun nuzul). Dengan demikian, kita tidak akan
memaknai ayat secara harfiah (etimologis saja),
melainkan didasarkan pada konteksnya di jaman Nabi,
dan disesuaikan dengan kondisi saat ini. Oleh sebab
itulah, penggunaan akal sangat dibutuhkan dalam
beragama bukannya membatasi pemikiran dengan
batas-batas tauhid.
Terakhir, kita mesti memahami bahwasanya Tuhan
menciptakan manusia lengkap dengan sarana berpikir
agar manusia dapat mengoptimalkan kerja akalnya agar
mampu meyakini sesuatu dengan landasan
pengetahuan yang kuat dan jelas. Sehingga keimanan
umat terhadap keilahian tidak mudah untuk digoyahkan.
Tapi pada intinya, pahamilah bahwa agama dan akal tak
saling menegasikan, sebab keduanya saling mengisi
dan menguatkan. Akal tanpa agama adalah kesesatan,
sementara agama tanpa akal adalah sebuah kesia-
siaan (Ilham:2012). Bagaimana mungkin kita mau
meng-imani sesuatu, sementara sesuatu itu kita tidak
tahu keberadaannya. Dengan alasan inilah, Allah
mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan
Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan
penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya
sebagaimana perintah-Nya dalam Qur’an:.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-
tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-
orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau. Maka lindungi kami
dari siksa neraka. (Ali Imran : 190-191).

Comments
0 Comments

0 komentar: