05.44
0

Hati-hati dalam memilih dan bersikap.
Tumbuh kembang anak tentunya menjadi
prioritas setiap orang tua. Setiap tetes keringat
dan uang yang dikeluarkan dipersembahkan
untuk sang anak, “apapun deh buat anak”.
Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh
kembang anak. 4F (Food, Fashion, Fun, Family),
empat faktor penting dalam tumbuh kembang,
apabila salah memilih dan salah bersikap akan
berubah menjadi suguhan berbahaya bagi anak.
Menurut Dra. UMI DAYATI, Psi (Dosen
Universitas Negeri Malang ) dan dr. WISNU
WAHYUNI, Sp.KJ (Dokter Psikologi RS Saiful
Anwar Malang ) pembicara seminar sehari pokja
Gerakan Sayang Ibu (GSI), sebagaimana yang
dikutip oleh lumajang.go.id, sikap ketidaktahuan
orang tua justru akan meminimalkan
perkembangan anak.
Suguhan berbahaya yang pertama yaitu food.
Menurut Dr. Reysa Eka, dalam bukunya “Rahasia
Mengetahui Makanan Berbahaya”, orang tua
terkadang cukup intens memperhatikan menu
makanan dan minuman utama anak, tetapi acap
kali melalaikan kualitas jajanan anak, padahal
tidak sedikit jajanan yang mengandung bahan
adiktif atau bahan tambahan yang tidak aman
bagi anak seperti MSG, borax, formalin, dan lain-
lain. Memberikan anak makanan yang
mengandung zat adiktif berbahaya sama dengan
meracuni anak. Fenomena berbahaya lainnya
yaitu rame-rame diberitakan seorang anak
gemar makan sabun seperti yang dialami Anton,
7 tahun. Menurut tim dokter puskesmas Benowo
Surabaya, Anton dinyatakan sehat tetapi tim
dokter berharap Anton menghentikan
kebiasaannya, sebab dikhawatirkan akan terjadi
iritasi pada tubuhnya nanti.
Yang kedua, fashion. Apa yang anda pikirkan
ketika melihat cara berpakaian anak kecil yang
tidak sesuai lagi dengan usianya atau “tua”
sebelum waktunya?, jawabannya pasti beragam
ada yang menganggap lucu, aneh, atau bahkan
mengasihani, tetapi yang namanya ‘tidak sesuai’
berarti ada sesuatu yang salah dengan hal
tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
Habib Abdurahman, Universitas Gunadarma,
gaya berpakaian yang berlebihan pada anak
dapat mengakibatkan gangguan pada
kedewasaan psikologis anak, dalam hal ini
kedewasaan si anak akan menjadi terlalu cepat
matang dan akan berpengaruh dalam pergaulan
si anak nantinya.
Yang ketiga, fun. Mainan, merupakan salah satu
benda yang bisa menyenangkan anak, media
pembelajaran untuk merangsang pertumbungan.
Namun dibalik kesenangan tersebut, sejumlah
mainan memberikan ancaman kesehatan bagi
anak. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) telah mengumumkan sejumlah mainan
edukasi yang dipasarkan di Indonesia,
khususnya Jakarta mengandung zat berbahaya
logam berat seperti timbal (Pb), merkuri (Hg),
cadmium (Cd), dan chromium (Cr) yang terutama
berasal dari zat pewarna.
Selain mainan edukasi, ancaman pun datang dari
pemakaian gadget. Gadget sudah menjadi
konsumsi anak di kehidupan sehari-hari.
Menurut penelitian di Abertawe Bro Morgannwg
University menunjukkan, sebagaimana
yangdikutip oleh antarbengkulu.com, teknologi
bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan anak.
Berlebihan menggunakan telepon pintar alias
smartphone ataupun komputer tablet bisa
memicu nyeri punggung dan leher, bahkan pada
usia anak-anak. Selain itu, banyak menggunakan
teknologi semacam smartphone cenderung
membuat anak-anak lebih malas bergerak.
Yang keempat,film. Menonton film atau menonton
acara di televisi telah menjadi konsumsi sehari-
hari orang dewasa bahkan anak-anak. Beberapa
orang tua telah mengarahkan anak-anak untuk
menonton acara khusus anak seperti film kartun,
tetapi ternyata tidak semua acara anak di televisi
kita cocok untuk dijadikan tontonan dan
tuntunan. Bahkan beberapa di antaranya sudah
berada dalam kategori berbahaya versi Yayasan
Pengembangan Media Anak (YPMA), yang kalo
diperhatikan banyaknya produksi luar negeri
seperti crayon shincan, tom&jerry, dan lain-lain.
Yang dimaksud kategori berbahaya ini karena
content atau isinya lebih banyak mengandung
muatan negatif daripada muatan positifnya.
Misalnya kekerasan, bahasa yang kasar, seks,
mistis, dan isi cerita yang rumit.
Yang kelima, family. Dari rumahlah pendidikan
anak bermula. Sikap dan cara mendidik orang
tua di rumah sangat mempengaruhi perilaku
anak. Anak-anak belajar dari melihat dan
mendengar. Bila orangtua sering keliru atau
menyalahi nasehatnya, maka anak-anak akan
terdidik jelek. Contohnya: giat belajar menjadi
lebih mudah bagi seorang anak yang mendapati
ibunya rajin membaca. Giat shalat menjadi lebih
sulit jika anak kerap menyaksikan ayah dan
ibunya tidak mempedulikan seruan adzan.
Siapa yang salah dalam semua kasus diatas?
Tentu jawabannya adalah orang tua, sebagai
orang terdekatnya. Seorang anak hanya bisa
menangis jika kehendaknya tidak dituruti, atau
cuma bisa ketawa jika apa yang diingininya
dituruti. Belajar dari kesalahan diatas, yuk
bersama-sama rubah diri kita supaya menjadi
orang tua yang lebih baik.
Pertama, tingkatkan keilmuan kita dengan
mengenali bahan-bahan berbahaya terkait
makanan.
Kedua, berikan arahan dan bimbingan secara
bijak kepada anaknya mengenai bagaimana cara
anaknya berdandan dan berpakaian sesuai
dengan usia dan kenyamanan si anak untuk
bergerak dan berinteraksi dengan teman-
temannya.
Ketiga, perhatikan label petunjuk penggunaan,
keterangan usia maupun bahan mainan di
kemasannya. Dampingi dan kontrol penggunaan
gadget.
Keempat, dampingi anak ketika menonton,
memberikan pengertian dan pemahaman pada
anak apa yang baik dan buruk.
Kelima, sebelum memerintah kebaikan atau
melarang kejelekan, hendaklah orangtua memulai
dari dirinya sendiri. Dalam proses pembentukan
karakter anak, diperlukan orangtua yang
konsisten dalam memberi teladan.


Comments
0 Comments

0 komentar: